Mentan Amran menjelaskan alasan TNI membantu petani, termasuk soal honor tambahan dan kebutuhan tenaga pendamping di tengah El Niño ekstrem.
![]()
Oleh Redaksi Pewarta.co.id
Rabu, Agustus 12, 2026
![]() |
| Mentan Andi Amran Sulaiman menjelaskan keterlibatan TNI dalam membantu kegiatan pertanian di tengah kondisi El Niño ekstrem. (Dok. Ist) |
PEWARTA.CO.ID — Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menjelaskan alasan prajurit TNI dilibatkan untuk membantu kegiatan pertanian di tengah kondisi El Niño ekstrem. Ia menegaskan, bantuan tersebut merupakan bentuk pengabdian untuk mempercepat pekerjaan di lapangan dan tidak disertai honor tambahan.
Menurut Amran, prajurit yang membantu petani tetap menerima gaji sebagai anggota TNI. Namun, pekerjaan di sektor pertanian yang dilakukan di luar tugas rutin, termasuk pada malam hari, akhir pekan, dan hari libur, tidak mendapatkan pembayaran tambahan.
“Ini selalu ditanyakan mahasiswa, wartawan, dan ditanyakan juga di Komisi IV. Inilah membantu siang malam. Tidak ada tambahan honor, membantu mendorong traktor, mengolah lahan, mengangkat pompa, itu tidak ada,” ujar Mentan, Rabu (12/8/2026).
Amran mengatakan dukungan prajurit dibutuhkan karena pemerintah menghadapi tantangan produksi pangan yang semakin berat akibat kondisi El Niño ekstrem. Situasi tersebut membuat percepatan pengolahan lahan dan penanganan irigasi menjadi semakin penting.
Ia kembali menegaskan bahwa gaji yang diterima prajurit merupakan gaji sebagai anggota TNI, bukan bayaran tambahan atas pekerjaan pertanian yang mereka lakukan.
“Jadi gajinya ada, tapi gaji TNI-nya. Tapi untuk kerja Sabtu, Minggu, hari libur, siang malam, memasang pompa, itu tidak ada. Tidak ada, tidak diberikan gaji,” tegasnya.
Kekurangan tenaga penyuluh pertanian
Keterlibatan TNI juga dikaitkan dengan keterbatasan tenaga pendamping pertanian di lapangan. Amran menyebut jumlah penyuluh pertanian lapangan (PPL) yang tersedia masih jauh dari kebutuhan ideal.
“PPL kita 37ribu, kita butuh 80 ribu lebih. Kita kurang sekitar 50 ribu,” katanya.
Menurut Amran, kekurangan tersebut menjadi salah satu alasan pemerintah membutuhkan dukungan lintas sektor, terutama ketika petani harus menghadapi ancaman kekeringan akibat El Niño.
Dalam kondisi yang membutuhkan respons cepat, pemerintah membutuhkan tenaga tambahan yang dapat segera dikerahkan untuk membantu pekerjaan di lapangan.
“Nah, di saat kondisi El Niño ekstrem seperti sekarang, ke mana kita mau minta tolong dalam waktu sekejap? TNI,” ujarnya.
Amran menekankan bahwa kehadiran prajurit dalam kegiatan pertanian bukan untuk menggantikan petani ataupun PPL. TNI ditempatkan sebagai kekuatan pendukung untuk membantu mempercepat respons ketika kebutuhan di lapangan membutuhkan mobilisasi tenaga dalam waktu singkat.
Ia pun meminta masyarakat melihat keterlibatan prajurit dalam membantu petani sebagai bagian dari gotong royong untuk menjaga produksi dan ketahanan pangan nasional.
“Jadi tolong netizen, ini yang membantu kita menjaga pangan. Kita mengabdi, ini kan pengabdian,” pungkasnya.



















































