KAI Gandeng BRIN Kembangkan Automatic Train Protection, Roadmap Disiapkan hingga Triwulan II 2027

14 hours ago 6

KAI gandeng BRIN kembangkan Automatic Train Protection, roadmap ATP hingga Triwulan II 2027 demi keselamatan dan inovasi perkeretaapian.

Redaksi Pewarta.co.id

Oleh Redaksi Pewarta.co.id

Rabu, Juli 29, 2026

kai dan brin kembangkan automatic train protection hingga triwulan ii 2027
KAI dan BRIN menandatangani nota kesepahaman untuk memperkuat pengembangan Automatic Train Protection (ATP) dengan roadmap implementasi hingga Triwulan II 2027. (Dok. Ist)

PEWARTA.CO.ID — PT Kereta Api Indonesia (Persero) memperkuat langkah pengembangan teknologi keselamatan perkeretaapian melalui kerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Kolaborasi tersebut difokuskan pada riset dan pengembangan Automatic Train Protection (ATP) yang disiapkan melalui roadmap hingga Triwulan II 2027.

Kesepakatan itu ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman dalam agenda BRIN Goes to Industry 5 yang berlangsung di Auditorium Soemitro Djojohadikusumo, Jakarta, Selasa (28/7). Dari pihak KAI, dokumen kerja sama ditandatangani oleh Direktur Portofolio Manajemen dan Teknologi Informasi KAI, I Gede Darmayusa.

Kolaborasi riset untuk mendukung transformasi industri

Dalam kesempatan tersebut, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia, Ir. Yuliot Tanjung, M.M., menegaskan bahwa transformasi industri nasional membutuhkan kolaborasi yang semakin erat antara pemerintah, lembaga riset, perguruan tinggi, dan sektor usaha.

Ia menilai riset dan inovasi menjadi fondasi penting untuk memperkuat daya saing industri, mempercepat hilirisasi, serta menghasilkan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan dunia usaha. Pemerintah juga berperan membangun ekosistem yang mampu mendorong pengembangan teknologi nasional.

Memasuki era Industry 5.0, pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan artifisial dinilai harus berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia serta memperhatikan aspek sosial dan keberlanjutan.

Sementara itu, Deputi Bidang Pemanfaatan Riset dan Inovasi BRIN, Dr. R. Hendrian, M.Sc., menjelaskan bahwa BRIN Goes to Industry 5 menjadi wadah untuk memperkuat sinergi antara peneliti dan pelaku industri melalui diskusi teknis, business matching, pameran hasil riset, hingga pertemuan langsung yang melibatkan sekitar 135 industri.

Kepala BRIN, Prof. Dr. Arif Satria, S.P., M.Si., juga menekankan pentingnya memastikan hasil penelitian dapat diterapkan oleh industri sehingga memberi manfaat ekonomi, sosial, maupun lingkungan.

Pengembangan ATP mengutamakan aspek keselamatan

KAI menyebut pengembangan Automatic Train Protection membutuhkan proses bertahap yang mencakup kajian, pengujian, hingga evaluasi agar sesuai dengan karakteristik operasional perkeretaapian di Indonesia.

“Keselamatan menjadi pertimbangan utama dalam setiap proses adopsi teknologi di KAI. Kolaborasi bersama BRIN memberi ruang bagi kami untuk menguji berbagai alternatif teknologi berbasis riset sehingga keputusan implementasinya memiliki landasan teknis, operasional, dan keselamatan yang kuat,” ujar I Gede.

ATP merupakan sistem yang dirancang untuk meningkatkan keselamatan perjalanan kereta melalui tiga fungsi utama, yakni mencegah kereta melintas saat sinyal berhenti atau Signal Passed at Danger (SPAD), mengawasi kecepatan perjalanan, serta memberikan informasi operasional kepada masinis.

Teknologi tersebut mengintegrasikan perangkat yang dipasang pada prasarana perkeretaapian dengan perangkat onboard yang berada di lokomotif maupun kereta berpenggerak.

Pengembangannya mengacu pada Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 52 Tahun 2014 mengenai kewajiban penerapan Sistem Kendali Kereta Otomatis. Dalam implementasinya, pengelola prasarana bertanggung jawab menentukan sistem pada jalur, sedangkan operator sarana memasang perangkat onboard yang kompatibel.

Validasi melalui Proof of Product

Sebagai bagian dari pengembangan teknologi, KAI dan BRIN akan menerapkan pendekatan Proof of Product sebelum menentukan sistem ATP yang akan digunakan.

Metode tersebut bertujuan menguji fungsi, integrasi, serta performa teknologi dalam kondisi yang merepresentasikan operasional KAI. Selain itu, proses validasi juga digunakan untuk mengidentifikasi potensi kesenjangan, memetakan risiko, hingga menyusun langkah mitigasi yang diperlukan.

Validasi dinilai penting karena operasional KAI memiliki tingkat kompleksitas tinggi, mulai dari keberagaman lalu lintas kereta, variasi sarana dan prasarana, pola operasi yang berbeda, kebutuhan interoperabilitas, hingga penggunaan teknologi dari berbagai penyedia.

Kajian tersebut juga mempertimbangkan kesiapan data, regulasi, sumber daya manusia, serta sistem pemeliharaan yang mendukung implementasi teknologi.

“Proof of Product memungkinkan teknologi dinilai dalam situasi operasional yang relevan. KAI dapat memahami sejak awal fungsi, antarmuka, kebutuhan integrasi, potensi risiko, serta kemampuan pemeliharaannya sebelum teknologi tersebut diterapkan dalam skala yang lebih luas,” kata I Gede.

Roadmap ATP disusun dalam tiga tahapan

Pengembangan ATP dirancang melalui tiga fase yang berlangsung mulai Triwulan III 2026 hingga paling lambat Triwulan II 2027.

Tahap pertama dimulai pada Triwulan III 2026 dengan pembentukan ATP Working Group yang melibatkan KAI dan Direktorat Jenderal Perkeretaapian. Bersamaan dengan itu, kerja sama bersama BRIN akan difokuskan pada kajian kondisi lokal operasional ATP, termasuk standardisasi, pengaruh cuaca, sambaran petir, hingga keberlanjutan pemeliharaan jangka panjang.

Tim tersebut akan menyusun konsep adopsi ATP, kebutuhan fungsional, roadmap implementasi, kerangka kerja konsultan, analisis keberagaman sarana dan prasarana, identifikasi kesenjangan, serta rekomendasi teknologi.

Tahap kedua dijadwalkan berlangsung pada Triwulan IV 2026. Fokus utamanya meliputi penyusunan desain Proof of Product, penetapan kebutuhan teknis, operasional, dan keselamatan, serta pelaksanaan market sounding kepada penyedia teknologi.

Selanjutnya, tahap ketiga dimulai pada Triwulan IV 2026 hingga paling lambat Triwulan II 2027. Tahapan ini mencakup uji lapangan, evaluasi hasil pengujian, serta safety assessment terhadap teknologi ATP yang diterapkan pada sarana maupun prasarana.

Kajian tersebut meliputi pemanfaatan perangkat onboard, balise atau transponder pada jalur, hingga integrasi dengan sistem persinyalan. Selain itu, KAI juga mengeksplorasi peluang penggunaan teknologi berbasis satelit dan komunikasi nirkabel yang masih memerlukan kajian regulasi serta kesiapan jaringan komunikasi khusus perkeretaapian.

Kolaborasi antara KAI dan BRIN juga mencakup riset teknologi, kajian integrasi ATP pada sarana, penyusunan dokumen teknis, pembaruan kerja sama kedua lembaga, serta penyusunan rekomendasi implementasi bersama regulator, lembaga riset, konsultan, produsen sarana, dan penyedia teknologi.

“Bagi KAI, keberhasilan kolaborasi ini akan diukur dari kemampuan riset menghasilkan keputusan teknologi yang tepat, dapat diintegrasikan dengan sistem perkeretaapian nasional, memenuhi persyaratan keselamatan, dan dapat dikelola secara berkelanjutan,” ujar I Gede.

“Arah akhirnya adalah membangun ekosistem inovasi perkeretaapian Indonesia yang semakin mandiri, adaptif, serta mampu mendukung keselamatan dan keandalan perjalanan dalam jangka panjang,” tutup I Gede.

Read Entire Article
Bekasi ekspress| | | |