WHO melaporkan wabah Ebola di RD Kongo dan Uganda telah menewaskan lebih dari 1.000 orang. Kasus terus bertambah, sementara vaksin belum tersedia.
![]()
Oleh Redaksi Pewarta.co.id
Kamis, Juli 23, 2026
![]() |
| Wabah Ebola sudah menjadi kasus luar biasa di RD Kongo pada 2019. Hingga kini masih menjadi ancaman serius dan telah menewaskan lebih dari 1.000 orang. |
PEWARTA.CO.ID — Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa wabah Ebola yang melanda Republik Demokratik Kongo (RD Kongo) dan Uganda telah menyebabkan lebih dari 1.000 korban jiwa sejak diumumkan pada Mei 2026. Penyebaran penyakit ini masih menjadi perhatian serius meski upaya penanganan terus ditingkatkan.
Berdasarkan tinjauan WHO yang dirilis pada Rabu (22/7/2026) menggunakan data resmi dari pemerintah kedua negara, sebanyak 2.473 kasus Ebola telah dipastikan terjadi di RD Kongo. Dari jumlah tersebut, 999 orang meninggal dunia.
Sementara itu, Uganda melaporkan 20 kasus terkonfirmasi dengan dua kematian, sehingga total korban jiwa akibat wabah di kedua negara kini telah melampaui angka 1.000 orang.
Wabah masih berpusat di wilayah timur laut RD Kongo
Wabah Ebola ke-17 di RD Kongo secara resmi diumumkan pada 15 Mei 2026 setelah muncul sejumlah kasus kematian di wilayah Ituri.
Hingga kini, penyebaran penyakit tersebut masih terkonsentrasi di provinsi timur laut yang kaya akan sumber daya mineral dan selama ini diketahui menjadi daerah yang terdampak aktivitas kelompok bersenjata.
Meski demikian, infeksi Ebola juga telah terdeteksi di empat provinsi lain di RD Kongo sehingga pengawasan terus diperluas.
Virus Ebola diketahui dapat menular melalui kontak erat dengan penderita maupun paparan cairan tubuh yang terinfeksi.
Uganda belum mencatat kasus baru selama tiga pekan
Sebagian besar kasus Ebola yang ditemukan di Uganda berasal dari warga negara RD Kongo yang melintasi wilayah perbatasan.
Pemerintah Uganda menyatakan negaranya telah melewati tiga minggu tanpa adanya laporan kasus baru, sebagaimana dikutip dari TRT.
Meski situasi di Uganda menunjukkan perkembangan positif, WHO tetap mengingatkan bahwa penyebaran wabah secara keseluruhan masih memerlukan perhatian serius.
WHO nilai wabah berkembang lebih cepat
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, sebelumnya mengingatkan bahwa dalam sebulan terakhir penyebaran wabah Ebola berlangsung lebih cepat dibandingkan wabah-wabah sebelumnya.
Sementara itu, manajer insiden WHO untuk virus Bundibugyo di RD Kongo, Thierno Balde, mengatakan upaya penanganan memang terus diperkuat, tetapi penyebaran penyakit tersebut belum berhasil dikendalikan.
"wabah tersebut masih di luar kendali kita, dan kita masih dalam fase mengejar ketertinggalan,"
Belum ada vaksin yang disetujui
Hingga saat ini belum tersedia vaksin maupun pengobatan yang telah memperoleh persetujuan untuk menangani strain Bundibugyo, yaitu varian virus Ebola yang memicu wabah kali ini.
Meski begitu, WHO menyebut terdapat perkembangan yang menjanjikan. Organisasi tersebut melaporkan bahwa uji coba terhadap dua kandidat pengobatan, vaksin, serta profilaksis pasca paparan masih terus berlangsung di lapangan sebagai bagian dari upaya mengendalikan penyebaran wabah.



















































