Indonesia Berpeluang Jadi Pelopor Implementasi Mobil Terbang eVTOL, Solusi Baru Konektivitas Antar Pulau

9 hours ago 8

Indonesia berpeluang menjadi pelopor implementasi mobil terbang eVTOL untuk memperkuat konektivitas antar pulau dan mendorong pertumbuhan ekonomi.

Redaksi Pewarta.co.id

Oleh Redaksi Pewarta.co.id

Kamis, Juli 23, 2026

Indonesia Berpeluang Jadi Pelopor Implementasi Mobil Terbang eVTOL, Solusi Baru Konektivitas Antar Pulau
Indonesia Berpeluang Jadi Pelopor Implementasi Mobil Terbang eVTOL, Solusi Baru Konektivitas Antar Pulau

PEWARTA.CO.ID — Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu negara terdepan dalam penerapan electric Vertical Take-Off and Landing (eVTOL) atau yang lebih dikenal sebagai mobil terbang. Potensi tersebut muncul karena kebutuhan konektivitas nasional yang berbeda dibandingkan banyak negara lain, terutama sebagai negara kepulauan.

Pandangan itu disampaikan Chairman INACA sekaligus Founder dan CEO Whitesky Group, Denon Prawiraatmadja, saat mengikuti rangkaian forum Advanced Air Mobility di Shanghai, China, pada Rabu, 22 Juli 2026.

eVTOL dinilai lebih dari sekadar taksi udara

Menurut Denon, pengembangan eVTOL seharusnya tidak hanya difokuskan sebagai moda transportasi udara untuk masyarakat di kawasan perkotaan. Di Indonesia, teknologi tersebut memiliki potensi lebih luas karena dapat mendukung konektivitas di berbagai wilayah yang selama ini sulit dijangkau.

"Indonesia mempunyai peluang menjadi salah satu negara paling maju dalam implementasi eVTOL. Bukan hanya untuk mobilitas perkotaan, mendukung konektivitas antar pulau jarak pendek, wilayah terpencil, kawasan industri, dan pusat pertumbuhan ekonomi baru," ujar Denon dalam keterangannya.

Karakter geografis Indonesia yang terdiri atas ribuan pulau menjadikan kebutuhan transportasi nasional berbeda dengan negara yang telah memiliki jaringan jalan raya maupun kereta api yang terhubung secara menyeluruh.

Berbagai pusat produksi, kawasan industri, destinasi wisata, hingga wilayah penghasil sumber daya alam tersebar di banyak pulau. Tidak sedikit di antaranya masih memerlukan perjalanan darat selama berjam-jam dari bandara atau pusat kota terdekat.

Berpotensi memperkuat konektivitas nasional

Dalam kondisi tersebut, eVTOL dinilai dapat berperan sebagai moda transportasi pelengkap yang mendukung berbagai kebutuhan perjalanan. Pemanfaatannya mencakup akses menuju dan dari bandara, perjalanan antarpulau dengan jarak pendek, layanan darurat, konektivitas kawasan wisata, hingga mobilitas menuju pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru.

"Bagi Indonesia, eVTOL bukan sekadar produk teknologi. Ukuran keberhasilannya adalah apakah teknologi ini mampu memperpendek waktu perjalanan, membuka akses baru, dan menciptakan nilai ekonomi," kata Denon.

Keselamatan tetap menjadi prioritas utama

Meski melihat peluang besar, Denon mengingatkan bahwa pengembangan mobil terbang tidak boleh mengabaikan standar utama dalam industri penerbangan.

Ia menilai berbagai aspek penting, mulai dari keselamatan, sertifikasi, kompetensi operator, sistem pemeliharaan, hingga kesiapan infrastruktur harus dipenuhi sebelum eVTOL dapat dioperasikan secara komersial.

"Teknologinya boleh berkembang, tetapi prinsip penerbangan tetap sama. Keselamatan harus menjadi fondasi utama sebelum kita berbicara mengenai skala operasi dan jumlah armada," tegas Denon Prawiraatmadja.

Indonesia didorong membangun ekosistem eVTOL

Selain menjadi pasar bagi produsen eVTOL global, Indonesia juga dinilai perlu berperan dalam membangun ekosistem pendukung yang sesuai dengan karakter negara kepulauan.

Denon mendorong pengembangan model operasi, infrastruktur, hingga skema pembiayaan yang dapat menunjang implementasi teknologi tersebut di dalam negeri.

Di sisi lain, layanan eVTOL juga perlu terhubung dengan bandara, transportasi darat, kawasan bisnis, serta platform digital agar perjalanan penumpang dapat berlangsung secara terintegrasi sejak titik keberangkatan hingga tujuan akhir.

Read Entire Article
Bekasi ekspress| | | |