Musim Kemarau Ancam Distribusi BBM, Pertamina Diminta Perkuat Mitigasi di Jalur Sungai

11 hours ago 11

Musim kemarau ancam distribusi BBM, Pertamina diminta siapkan mitigasi agar pasokan BBM di jalur sungai tetap aman dan tidak terganggu.

Redaksi Pewarta.co.id

Oleh Redaksi Pewarta.co.id

Selasa, Juli 28, 2026

musim kemarau ancam distribusi bbm pertamina siapkan mitigasi jalur sungai
Musim kemarau berpotensi menghambat distribusi BBM di jalur sungai sehingga Pertamina diminta memperkuat langkah mitigasi sejak dini. (Dok. Ist)

PEWARTA.CO.ID — Musim kemarau yang mulai berlangsung di sejumlah wilayah Indonesia dinilai berpotensi mengganggu kelancaran distribusi bahan bakar minyak (BBM), terutama di daerah yang masih mengandalkan jalur sungai sebagai akses utama pengiriman.

Kondisi tersebut mendorong Pertamina Patra Niaga untuk meningkatkan kesiapsiagaan sejak dini agar gangguan distribusi tidak berkembang menjadi persoalan pasokan energi bagi masyarakat.

Musim kemarau berisiko hambat distribusi BBM

Pengamat Kebijakan Energi Sofyano Zakaria mengingatkan bahwa penurunan debit air dan pendangkalan sungai selama musim kemarau dapat menghambat operasional kapal pengangkut BBM menuju berbagai wilayah di Indonesia.

“Musim kemarau tidak boleh sampai berubah menjadi krisis distribusi BBM. Di sejumlah daerah, sungai merupakan jalur utama pengangkutan BBM. Ketika debit air turun drastis, kapal tanker maupun ponton tidak dapat beroperasi secara normal sehingga distribusi BBM berpotensi terlambat dan pada akhirnya mengganggu pasokan di SPBU,” ujar Pengamat Kebijakan Energi Sofyano Zakaria, Selasa (28/7/2026).

Menurutnya, persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan kondisi alam, tetapi juga dapat berdampak pada ketahanan energi apabila tidak ditangani secara serius.

Sejumlah wilayah dinilai rawan terdampak

Sofyano menjelaskan, sejumlah daerah yang bergantung pada transportasi sungai memiliki potensi terdampak cukup besar apabila musim kemarau berlangsung lebih lama.

Wilayah tersebut meliputi daerah yang dilayani melalui Sungai Kapuas beserta anak sungainya di Kalimantan Barat menuju Sanggau, Sintang, Melawi, hingga Kapuas Hulu.

Selain itu, potensi kendala distribusi juga dapat terjadi di jalur Sungai Mahakam di Kalimantan Timur yang melayani Mahakam Ulu, Sungai Barito di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah, Sungai Kahayan, Sungai Katingan, Sungai Musi di Sumatera Selatan, hingga sejumlah sungai di kawasan pedalaman Papua.

Ia menjelaskan, menurunnya kedalaman alur pelayaran dapat memaksa kapal mengurangi muatan. Bahkan, pada beberapa titik tertentu kapal tidak lagi dapat melintas sehingga distribusi membutuhkan waktu lebih lama, biaya logistik meningkat, dan risiko kekurangan stok BBM di wilayah terpencil ikut bertambah.

Pertamina diminta lakukan mitigasi sejak awal

Sofyano menilai Pertamina Patra Niaga perlu mengambil langkah antisipatif tanpa menunggu gangguan distribusi benar-benar terjadi.

Ia menyarankan penguatan buffer stock di Fuel Terminal maupun SPBU yang berada di kawasan rawan sebagai bagian dari strategi menghadapi musim kemarau.

Selain itu, pemantauan kondisi sungai secara berkala juga dinilai penting dengan melibatkan BMKG, Kementerian Perhubungan, pemerintah daerah, serta otoritas pelayaran agar perubahan debit air dapat diketahui lebih cepat.

“Pertamina juga harus menyiapkan jalur distribusi alternatif melalui transportasi darat apabila jalur sungai tidak lagi dapat dilalui, mengoperasikan kapal atau ponton dengan draft lebih rendah, serta memperkuat sistem pemantauan stok BBM secara digital agar setiap potensi kekurangan pasokan dapat segera direspons,” tegasnya.

Simulasi penanganan perlu dilakukan berkala

Selain penguatan stok dan jalur distribusi alternatif, Sofyano juga menilai simulasi penanganan gangguan distribusi BBM di daerah rawan perlu dilaksanakan secara berkala.

Langkah tersebut diharapkan mampu memperkuat koordinasi antara Pertamina, pemerintah daerah, aparat keamanan, operator transportasi, serta pengelola SPBU ketika menghadapi kondisi darurat.

“Ketahanan energi nasional bukan hanya ditentukan oleh ketersediaan stok BBM, tetapi juga oleh kemampuan menyalurkannya kepada masyarakat. Oleh sebab itu, musim kemarau harus diperlakukan sebagai risiko logistik nasional yang wajib dimitigasi sejak dini agar masyarakat tetap memperoleh pasokan BBM secara aman dan berkelanjutan,” pungkasnya.

Read Entire Article
Bekasi ekspress| | | |