BMKG Ingatkan El Nino Menguat, Kekeringan dan Karhutla Ancam Indonesia hingga Awal Agustus 2026

14 hours ago 10

BMKG peringatkan El Nino menguat, musim kemarau meluas, kekeringan, karhutla, dan angin kencang berpotensi terjadi hingga awal Agustus 2026.

Redaksi Pewarta.co.id

Oleh Redaksi Pewarta.co.id

Selasa, Juli 28, 2026

bmkg peringatkan el nino menguat picu kekeringan dan karhutla di indonesia
BMKG mengingatkan dampak El Nino yang semakin menguat berpotensi memicu kekeringan, karhutla, dan angin kencang di berbagai wilayah Indonesia. (Ilustrasi/Canva)

PEWARTA.CO.ID — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan menyusul menguatnya fenomena El Nino yang berdampak pada semakin luasnya musim kemarau di berbagai wilayah Indonesia.

Kondisi tersebut diperkirakan meningkatkan potensi kekeringan, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), hingga angin kencang yang diprediksi masih berlangsung setidaknya sampai awal Agustus 2026.

Musim kemarau semakin mendominasi

Dalam laporan pemantauan Dasarian II Juli 2026, BMKG menyebut musim kemarau terus meluas dengan kondisi kering yang kini mendominasi sebagian besar wilayah Indonesia.

Data menunjukkan sebanyak 509 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 72,8 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau.

Sementara itu, curah hujan kategori rendah tercatat mencakup 92,93 persen wilayah. Adapun curah hujan kategori menengah mencapai 6,63 persen dan kategori tinggi hanya sekitar 0,45 persen.

“Kondisi ini juga tercermin dari sifat hujan, dimana 89,97% wilayah didominasi kategori bawah normal. Hingga periode tersebut, sebanyak 509 Zona Musim atau sekitar 72,8% wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau,” tulis BMKG dalam keterangannya, dikutip Okezone Selasa (28/7/2026).

BACA JUGA!

Status Siaga Kekeringan Cimahi Berlaku hingga 30 September, Pasokan Air Bersih Capai 40 Ribu Liter per Pekan

Dampak kekeringan dan karhutla mulai bermunculan

BMKG mengungkapkan dampak musim kemarau mulai terlihat di sejumlah daerah.

Pada periode 24 hingga 27 Juli 2026, laporan kekeringan telah diterima dari wilayah Jawa Tengah. Di saat yang sama, kebakaran hutan dan lahan juga terjadi di beberapa provinsi, antara lain Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Selatan.

Kondisi tersebut menjadi sinyal perlunya peningkatan kewaspadaan terhadap berkurangnya cadangan air, meningkatnya titik panas, serta risiko kebakaran pada lahan yang mudah terbakar.

SIMAK JUGA!

BNPB Catat Karhutla, Tanah Longsor, dan Banjir Mendominasi Bencana di Berbagai Daerah Indonesia

Hujan lebat masih berpotensi terjadi di sejumlah daerah

Meski musim kemarau mendominasi, BMKG menegaskan hujan dengan intensitas tinggi masih dapat terjadi secara lokal akibat pengaruh dinamika atmosfer.

Selama periode 24–27 Juli 2026, hujan lebat hingga sangat lebat tercatat di Sumatera Utara dengan intensitas mencapai 128 milimeter per hari, Sumatera Barat 116 milimeter per hari, Kalimantan Utara 88 milimeter per hari, Papua 87 milimeter per hari, dan Aceh 65 milimeter per hari.

Menurut BMKG, kondisi tersebut dipengaruhi oleh aktivitas Gelombang Kelvin dan Gelombang Rossby Ekuatorial yang berdampak pada wilayah Sumatera bagian utara serta Sulawesi Tengah.

Selain itu, Madden-Julian Oscillation (MJO) juga aktif di sebagian wilayah Sumatera bagian tengah hingga selatan. Di sisi lain, keberadaan Siklon Tropis Noul di Laut Filipina, sebelah utara Maluku Utara, turut meningkatkan pasokan uap air sehingga mendukung pembentukan awan hujan, terutama di Kalimantan Utara.

Angin kencang juga perlu diwaspadai

BMKG turut mengingatkan adanya potensi angin kencang di sejumlah wilayah Indonesia.

Peningkatan kecepatan angin permukaan yang mencapai lebih dari 20 knot berpotensi memicu pohon tumbang, kerusakan pada bangunan ringan, hingga mengganggu aktivitas masyarakat.

BMKG minta masyarakat tingkatkan mitigasi

Menghadapi kondisi tersebut, BMKG mengimbau masyarakat bersama pemerintah daerah untuk memperkuat langkah mitigasi.

Beberapa upaya yang disarankan antara lain menghemat penggunaan air, tidak melakukan pembakaran lahan maupun sampah secara sembarangan, serta segera melaporkan apabila ditemukan indikasi titik api, terutama di wilayah yang rawan mengalami kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan.

“Masyarakat di wilayah yang masih berpotensi mengalami hujan signifikan agar tetap waspada terhadap cuaca ekstrem, menghindari pohon, baliho, maupun bangunan rapuh saat terjadi angin kencang, serta terus memantau informasi cuaca dan peringatan dini resmi dari BMKG,” demikian keterangan BMKG.

Read Entire Article
Bekasi ekspress| | | |