Kemnaker Gandeng GreatNusa dan Microsoft Cetak Talenta AI, Siapkan SDM Hadapi Perubahan Pasar Kerja

16 hours ago 10

Kemnaker, GreatNusa, Microsoft, dan talenta AI berkolaborasi memperkuat kompetensi digital demi menghadapi perubahan pasar kerja.

Redaksi Pewarta.co.id

Oleh Redaksi Pewarta.co.id

Minggu, Agustus 02, 2026

kemnaker gandeng greatnusa dan microsoft siapkan talenta ai indonesia
Kemnaker bersama GreatNusa dan Microsoft berkolaborasi memperkuat talenta AI Indonesia untuk menghadapi perubahan pasar kerja digital. (Dok. Ist)

PEWARTA.CO.ID — Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) memperkuat upaya mencetak sumber daya manusia yang siap menghadapi era digital melalui kerja sama dengan GreatNusa yang diluncurkan Universitas Bina Nusantara (BINUS University) serta Microsoft Indonesia. Kolaborasi ini difokuskan pada peningkatan kompetensi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan keterampilan perangkat lunak bagi talenta digital nasional.

Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari strategi menyiapkan tenaga kerja yang mampu memenuhi kebutuhan industri di tengah perubahan teknologi yang berkembang sangat cepat.

AI menjadi kompetensi penting di dunia kerja

Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menilai kemampuan digital, khususnya penguasaan AI, kini menjadi salah satu faktor utama dalam meningkatkan daya saing tenaga kerja Indonesia. Karena itu, menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, institusi pendidikan, dan perusahaan teknologi menjadi fondasi penting dalam menciptakan SDM yang siap bersaing, baik di tingkat nasional maupun global.

"Transformasi digital tidak bisa kita hindari. Karena itu, kita harus memastikan tenaga kerja Indonesia memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri. Kolaborasi dengan dunia pendidikan dan sektor teknologi menjadi langkah penting untuk mempercepat lahirnya talenta digital yang siap bersaing di tingkat global," ujar Yassierli saat membuka AI Career Boost Day 2026 bertema Kolaborasi AI dan Talenta Indonesia: Meningkatkan Kompetensi, Memperluas Kesempatan Kerja di Jakarta, Selasa (28/7/2026).

Yassierli menegaskan bahwa perkembangan AI seharusnya tidak dipandang sebagai ancaman bagi dunia ketenagakerjaan. Sebaliknya, teknologi tersebut membuka peluang lahirnya berbagai profesi baru yang membutuhkan kemampuan digital dengan tingkat keahlian lebih tinggi.

Mengacu pada World Economic Forum Future of Jobs Report 2025, ia menyebut sekitar 92 juta pekerjaan diperkirakan terdampak disrupsi. Namun, hingga 2030 diproyeksikan akan muncul sekitar 170 juta jenis pekerjaan baru yang berbasis teknologi.

Permintaan talenta AI terus meningkat

Perubahan kebutuhan industri juga terlihat dari meningkatnya permintaan tenaga kerja yang memiliki kemampuan AI. Berdasarkan data LinkedIn, kebutuhan terhadap talenta AI di kawasan Asia Tenggara telah meningkat hingga 2,4 kali lipat.

Sementara itu, sebanyak 69 persen pimpinan perusahaan di Indonesia mengaku enggan merekrut kandidat yang belum memiliki keterampilan AI. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penguasaan AI kini menjadi kebutuhan yang semakin penting di pasar kerja.

AI bukan penyebab utama PHK

Meski perkembangan AI semakin pesat, Yassierli menegaskan bahwa teknologi tersebut tidak dapat disimpulkan sebagai penyebab utama meningkatnya pemutusan hubungan kerja (PHK).

Mengacu pada studi Anthropic tahun 2026, ia menjelaskan bahwa PHK dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti kondisi bisnis, daya saing perusahaan, hingga situasi makroekonomi.

"Otomasi berbasis AI hanyalah salah satu faktor, bukan penyebab utama," ujarnya.

Kemnaker perkuat pelatihan dan layanan pencari kerja

Untuk menjawab perubahan kebutuhan industri, Kemnaker terus mengoptimalkan Balai Latihan Kerja (BLK) di berbagai daerah sebagai pusat pengembangan kompetensi tenaga kerja.

Pelatihan yang diberikan mencakup berbagai jenjang, mulai dari dasar hingga lanjutan, termasuk bidang smart operation. Program tersebut tersedia melalui pembelajaran tatap muka maupun daring agar dapat menjangkau masyarakat lebih luas.

Selain itu, Kemnaker juga mengembangkan layanan job fair secara daring guna mempercepat proses pencocokan antara pencari kerja dengan kebutuhan perusahaan.

Ekosistem talenta digital dinilai menjadi kunci

Yassierli menilai pemanfaatan AI justru dapat mendorong pertumbuhan lapangan kerja apabila didukung oleh ekosistem pengembangan talenta digital yang kuat.

Ia mencontohkan Kota Hyderabad di India yang mampu mencatat pertumbuhan perekrutan tenaga kerja hingga 11 persen setelah berhasil membangun kolaborasi yang terintegrasi antara pemerintah, dunia pendidikan, dan industri.

"Kalau kita mampu membangun ekosistem pengembangan talenta digital dengan baik, peluang yan g sama juga bisa kita raih. Yang dibutuhkan adalah kolaborasi, keberanian beradaptasi, dan kesiapan SDM untuk menguasai teknologi baru," katanya.

Lebih lanjut, Yassierli menegaskan pentingnya menghubungkan pelatihan, sertifikasi, dan akses terhadap kesempatan kerja dalam satu ekosistem yang saling mendukung.

"Kami ingin pelatihan, sertifikasi, dan akses terhadap peluang kerja menjadi satu ekosistem yang saling terhubung. Dengan begitu, masyarakat tidak hanya memperoleh keterampilan, tetapi juga memiliki jalur yang lebih cepat untuk masuk ke dunia kerja," kata Yassierli.

Di akhir penyampaiannya, ia mengingatkan bahwa perkembangan teknologi harus diimbangi dengan penguatan kemampuan yang menjadi keunggulan manusia, seperti empati, berpikir kritis, kemampuan mengambil keputusan, dan kolaborasi.

" No algorithm can replace empathy; no data set can replicate wisdom . AI harus dimanfaatkan untuk memperkuat kualitas manusia sehingga mampu mendukung terwujudnya visi Indonesia Emas 2045," pungkas Yassierli.

Read Entire Article
Bekasi ekspress| | | |