Ekonomi Indonesia Diproyeksi Tumbuh 5,3 Persen pada Kuartal II 2026, Belanja Pemerintah Jadi Penopang

13 hours ago 10

Ekonomi Indonesia diproyeksi tumbuh 5,3 persen pada kuartal II 2026, ditopang belanja pemerintah dan konsumsi masyarakat.

Redaksi Pewarta.co.id

Oleh Redaksi Pewarta.co.id

Minggu, Agustus 02, 2026

ekonomi indonesia tumbuh 5,3 persen kuartal ii 2026 didukung belanja pemerintah
Proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2026 didukung belanja pemerintah, konsumsi masyarakat, dan fundamental ekonomi yang tetap kuat. (Ilustrasi/Canva)

PEWARTA.CO.ID — Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2026 diperkirakan tetap berada di jalur positif. Sejumlah ekonom memproyeksikan laju ekonomi nasional berada di kisaran 5,2 hingga 5,3 persen, dengan peningkatan belanja pemerintah menjadi salah satu faktor utama yang menopang kinerja tersebut.

Selain belanja negara yang meningkat, penguatan harga sejumlah komoditas juga dinilai ikut memberikan dorongan terhadap aktivitas konsumsi masyarakat di tengah berbagai tantangan ekonomi.

Belanja pemerintah menjadi motor pertumbuhan

Ekonom Bank Danamon Indonesia, Hosianna Evalita Situmorang, mengatakan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi memang memicu tekanan inflasi. Namun, peningkatan belanja pemerintah yang tumbuh sekitar 20 persen secara tahunan (year on year/yoy) mampu menjadi katalis positif bagi pertumbuhan ekonomi.

"Jadi, pertumbuhan ekonomi diperkirakan berada di kisaran 5,2-5,3 persen pada kuartal II," ujarnya.

Menurutnya, kondisi tersebut memberikan ruang bagi ekonomi nasional untuk tetap bertumbuh meski menghadapi sejumlah tekanan eksternal.

Ia juga menilai kenaikan harga batu bara pada Mei 2026 memberikan dampak positif terhadap daya beli masyarakat karena sektor komoditas masih mampu menopang aktivitas ekonomi.

"Kita sempat melihat harga batu bara pada Mei relatif naik. Ini menjadi faktor pendukung karena ketika komoditas baik, konsumsi masyarakat relatif baik di tengah adanya pelemahan nilai tukar dan penurunan PMI," ujarnya.

Fundamental ekonomi dinilai tetap solid

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa kinerja ekonomi pada triwulan II 2026 masih ditopang fundamental yang kuat.

Menurutnya, sejumlah indikator menunjukkan kondisi ekonomi tetap terjaga, mulai dari meningkatnya konsumsi rumah tangga hingga realisasi investasi yang dinilai mampu mempercepat laju pertumbuhan.

Airlangga juga menyoroti beberapa indikator lain seperti inflasi yang terkendali, surplus neraca perdagangan yang telah berlangsung selama 70 bulan berturut-turut, serta tingginya tingkat kepercayaan konsumen.

Di sisi lain, konsumsi rumah tangga masih menjadi penyumbang terbesar terhadap produk domestik bruto (PDB) dengan kontribusi mencapai 54 persen.

"Proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun ini di atas 5,3 persen. Dan pada kuartal pertama tahun ini, optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia sekitar 5,5 persen," tutur Airlangga.

Manufaktur, perbankan, dan ekspor komoditas ikut menopang

Airlangga menjelaskan sektor manufaktur masih berada pada fase ekspansi dengan indeks sebesar 50,1. Selain itu, posisi cadangan devisa Indonesia juga tetap kuat di level USD148,2 miliar.

Kondisi sektor perbankan juga disebut masih stabil dengan rasio permodalan yang kuat serta risiko kredit yang tetap terkendali melalui penerapan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran pembiayaan.

Dari sektor sumber daya alam, peningkatan ekspor berbagai komoditas unggulan seperti batu bara, karet, nikel, tembaga, dan aluminium yang mencapai USD47 miliar turut memperkuat pertumbuhan ekonomi. Nilai ekspor tersebut dinilai memberikan natural hedging terhadap tekanan yang berasal dari sektor minyak dan gas.

APBN tetap menjadi bantalan ekonomi

Pemerintah juga terus memanfaatkan APBN sebagai instrumen untuk menjaga stabilitas ekonomi melalui berbagai program, antara lain penyaluran bantuan pangan, pemberian diskon transportasi, subsidi bahan bakar, serta kompensasi dengan nilai sekitar Rp11,92 triliun.

Selain itu, defisit APBN hingga Maret 2026 tetap terjaga di level 0,93 persen terhadap PDB.

Airlangga turut menyoroti peningkatan transaksi mata uang lokal Indonesia sepanjang 2025 yang mencapai USD25,6 miliar atau dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.

"Lalu transaksi mata uang lokal Indonesia pada 2025 meningkat menjadi USD25,6 miliar. Angka ini dua kali lipat dibandingkan tahun 2024, dengan negara-negara seperti Malaysia, Korea Selatan, Thailand, Jepang, dan China yang sudah menerima transaksi pembayaran QRIS Indonesia," ujar Airlangga.

Read Entire Article
Bekasi ekspress| | | |