Diet Viral Berujung Masuk IGD, Dokter Ungkap Bahaya Pangkas Kalori Berlebihan Picu GERD

16 hours ago 13

Diet viral dengan kalori berlebihan dipangkas bisa picu GERD hingga masuk IGD. Dokter mengingatkan pentingnya diet sehat sesuai kebutuhan tubuh.

Redaksi Pewarta.co.id

Oleh Redaksi Pewarta.co.id

Minggu, Agustus 02, 2026

diet viral picu gerd akibat memangkas kalori berlebihan hingga masuk igd
Dokter mengingatkan bahaya diet ekstrem yang memangkas kalori secara berlebihan karena dapat memicu GERD hingga berakhir di IGD. (Ilustrasi/Canva)

PEWARTA.CO.ID — Tren diet untuk menurunkan berat badan dalam waktu singkat kembali menjadi sorotan. Di balik hasil yang diharapkan, pola makan dengan pembatasan kalori secara ekstrem ternyata dapat memicu gangguan kesehatan serius, termasuk memperparah penyakit Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) hingga membutuhkan penanganan di Instalasi Gawat Darurat (IGD).

Peringatan tersebut disampaikan dokter sekaligus edukator kesehatan, dr. Gia Pratama, berdasarkan pengalaman saat menangani seorang pasien yang mengalami GERD berat setelah mengikuti metode diet yang sedang populer.

Diet ekstrem picu GERD hingga masuk IGD

Menurut dr. Gia, pasien tersebut awalnya mengira hanya mengalami gangguan asam lambung biasa. Namun setelah dilakukan pemeriksaan dan penelusuran lebih lanjut, penyebab utamanya ternyata berkaitan dengan pola diet yang dijalani.

“Teman-teman, aku pernah menangani pasien yang datang dengan GERD yang sudah parah. Awalnya dia pikir cuma asam lambung biasa, tapi setelah aku periksa dan ngobrol lebih lanjut, ternyata penyebabnya justru dari cara dietnya,” kata dr. Gia.

Asupan kalori jauh di bawah kebutuhan tubuh

Dr. Gia mengungkapkan, pasien tersebut hanya mengonsumsi sekitar 300 kalori setiap hari. Jumlah tersebut sangat jauh di bawah kebutuhan energi harian orang dewasa yang umumnya berada di kisaran 1.200 hingga 1.500 kalori, bergantung pada usia dan tingkat aktivitas.

“Dia lagi kejar target kurus dan ikut diet yang lagi viral. Makannya cuma sehari 300 kalori, padahal rata-rata masih butuh kira-kira 1.200 sampai 1.500 kalori, tergantung usia dan aktivitasnya. Akibatnya lambung kosong terlalu lama, asam lambung meningkat, badan lemas, dan akhirnya GERD-nya kambuh sampai harus ke IGD,” ungkapnya.

Diet bukan berarti makan sesedikit mungkin

Berkaca dari kasus tersebut, dr. Gia mengingatkan masyarakat agar tidak salah memahami konsep diet. Menurutnya, menjalani diet bukan berarti menahan lapar atau memangkas porsi makan secara berlebihan, melainkan mengatur pola makan yang disesuaikan dengan kebutuhan nutrisi serta kondisi kesehatan masing-masing individu.

“Makanya memang aku selalu bilang, untuk diet itu bukan makan sesedikit mungkin. Diet itu disesuaikan dengan kebutuhan unik tubuh kita. Karena setiap orang punya kondisi kesehatan, aktivitas, dan kebutuhan nutrisi yang berbeda,” tuturnya.

Ia juga menegaskan bahwa keberhasilan diet tidak hanya diukur dari turunnya berat badan. Yang lebih penting, pola makan tersebut tetap mampu menjaga kesehatan tubuh dan dapat dijalankan secara konsisten dalam jangka panjang.

“Tujuannya memang bukan cuma menurunkan berat badan, tapi tubuh tetap sehat secara optimal, lalu dietnya juga bisa dijalani dengan nyaman, konsisten, dan dalam jangka panjang,” pungkasnya.

Read Entire Article
Bekasi ekspress| | | |