Redaksi Pewarta.co.id
Selasa, Maret 31, 2026
Perkecil teks Perbesar teks
![]() |
| Radio RWS FM Kediri Berhenti Siaran per 1 April 2026 Setelah 58 Tahun Mengudara |
PEWARTA.CO.ID — Dunia penyiaran di Jawa Timur, khususnya kawasan Kediri Raya, tengah diliputi suasana kehilangan. Salah satu stasiun radio paling ikonik, Radio Wijang Songko (RWS) FM, resmi menghentikan siarannya mulai 1 April 2026.
Keputusan ini menandai berakhirnya perjalanan panjang RWS FM yang telah mengudara sejak 1968. Selama hampir enam dekade, radio ini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Kediri, Nganjuk, Blitar, hingga Tulungagung.
Kabar berhentinya siaran tersebut langsung memicu gelombang nostalgia di media sosial. Banyak warga mengenang RWS bukan hanya sebagai media hiburan, tetapi juga sebagai sahabat setia yang menemani berbagai fase kehidupan.
Jejak panjang Radio Wijang Songko sejak 1968
Radio Wijang Songko didirikan pada 1968, di masa ketika radio menjadi sumber utama informasi dan hiburan masyarakat. Nama “Wijang Songko” sendiri diambil dari tokoh dalam dunia pewayangan yang mencerminkan kewibawaan serta kedekatan dengan rakyat.
Selama puluhan tahun, RWS FM mampu bertahan di tengah perkembangan zaman yang terus berubah. Saat banyak radio mulai mengadopsi tren modern dan konten global, RWS tetap konsisten mengangkat budaya lokal.
Penggunaan bahasa Jawa dalam siaran, serta pemutaran musik campursari dan dangdut koplo, menjadi ciri khas yang sulit tergantikan. Pendekatan ini berhasil membangun komunitas pendengar loyal yang dikenal sebagai “Sobat RWS”.
Program ikonik dan penyiar legendaris
Kepopuleran RWS FM tidak lepas dari program-programnya yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Format siaran interaktif, seperti kirim salam dan request lagu, telah menjadi ruang komunikasi sosial bahkan sebelum era media sosial berkembang.
Sejumlah nama penyiar legendaris seperti Lek Dul, Temon, Menik, dan Nino menjadi sosok yang sangat familiar di telinga pendengar. Suara mereka menemani aktivitas harian masyarakat, mulai dari petani di sawah hingga sopir di jalanan.
Gaya penyiaran yang santai, humor khas Mataraman, serta kedekatan emosional yang dibangun dengan pendengar menjadi kekuatan utama RWS selama bertahun-tahun.
Penyebab RWS FM berhenti siaran
Meski pengumuman penghentian siaran telah tersebar luas, pihak manajemen belum mengungkapkan secara detail alasan di balik keputusan tersebut. Namun, kondisi ini mencerminkan tantangan besar yang dihadapi industri radio analog saat ini.
Perubahan pola konsumsi media menjadi salah satu faktor utama. Masyarakat kini lebih banyak beralih ke platform digital seperti streaming musik, video, hingga podcast.
Di sisi lain, biaya operasional radio, termasuk perawatan perangkat dan lisensi frekuensi, terus meningkat. Kondisi ini tidak selalu sebanding dengan pendapatan iklan yang kini terfragmentasi ke berbagai platform digital.
Selain itu, tantangan regenerasi pendengar juga menjadi persoalan serius. Generasi muda cenderung lebih tertarik pada konten visual dibandingkan audio konvensional.
Dampak bagi masyarakat Kediri dan sekitarnya
Berhentinya RWS FM bukan sekadar hilangnya satu frekuensi radio. Ada peran sosial yang selama ini diemban dan kini ikut menghilang.
Sebagai media informasi lokal, RWS kerap menjadi sumber kabar tercepat bagi masyarakat, mulai dari informasi lalu lintas hingga pengumuman kehilangan atau berita duka.
RWS juga berperan sebagai wadah bagi seniman lokal untuk memperkenalkan karya mereka. Kehadiran radio ini selama ini membuka ruang promosi yang sulit tergantikan.
Tak hanya itu, bagi sebagian masyarakat, khususnya lansia, RWS adalah teman setia yang menemani keseharian dan mengisi kesunyian.
Komentar haru netizen banjiri media sosial
Sejak pengumuman penghentian siaran pada akhir Maret 2026, berbagai unggahan terkait RWS FM ramai di media sosial dan grup komunitas lokal.
Ucapan terima kasih dan kenangan lama membanjiri kolom komentar. Banyak yang mengenang masa ketika harus mengirim salam melalui surat untuk bisa diputar di radio.
"Terima kasih RWS, sudah menemani masa kecil saya lewat dongeng dan lagu-lagu campursari. Tanpa suaramu, suasana pagi di Kediri terasa ada yang hilang," tulis salah satu netizen.
Ungkapan serupa terus berdatangan, menandakan betapa kuatnya ikatan emosional antara RWS dan para pendengarnya.
Warisan RWS FM yang tak lekang oleh waktu
Berakhirnya siaran RWS FM menjadi pengingat bahwa perubahan zaman tidak bisa dihindari. Namun, jejak yang telah ditinggalkan selama puluhan tahun akan tetap hidup dalam ingatan masyarakat.
RWS membuktikan bahwa media yang mampu membangun kedekatan dengan audiens akan selalu memiliki tempat tersendiri, meskipun secara fisik sudah tidak lagi hadir.
Momentum ini juga menjadi pengingat pentingnya mendokumentasikan sejarah media lokal agar tidak hilang seiring berjalannya waktu.
Per 1 April 2026, frekuensi RWS FM mungkin telah sunyi. Namun, kenangan, suara, dan kebersamaan yang pernah tercipta akan terus hidup dalam ingatan warga Kediri dan sekitarnya.



















































