Kota Lama Semarang Mulai Ramai Festival, Apa Saja yang Bisa Dinikmati Wisatawan?

7 hours ago 9
Suasana Festival Kota Lama Semarang 2026 dengan bangunan heritage, Gereja Blenduk, dan pengunjung.
Suasana Festival Kota Lama Semarang dengan latar bangunan bersejarah dan Gereja Blenduk. (Ilustrasi/PEWARTA.co.id)


PEWARTA.CO.ID — Kota Lama Semarang mulai memasuki periode yang lebih ramai pada September 2026. Festival Kota Lama (FKL) XV yang dibuka pada 4 September kini diperpanjang hingga 20 September, bertepatan dengan rangkaian kedatangan peserta dan tamu Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional XXXI di Kota Semarang.

Perpanjangan tersebut membuat wisatawan memiliki waktu lebih panjang untuk menikmati kawasan cagar budaya itu sekaligus menyaksikan berbagai pertunjukan seni, kegiatan komunitas, kuliner, hingga aktivitas yang menghidupkan kembali suasana Semarang tempo dulu.

Festival Kota Lama 2026 mengusung konsep Unity in Diversity. Rangkaian acaranya mencakup Pasar Malam Sentiling, pertunjukan musik dan tari, Rijsttafel Dinner, kegiatan bersepeda, permainan catur, program literasi, pertunjukan wayang orang, festival folklore, hingga pertunjukan 1.000 Angklung Berkebaya.

Bagi wisatawan yang sedang mencari event Semarang 2026, momentum ini menarik karena kunjungan ke Kota Lama dapat disusun sebagai pengalaman wisata sejarah sekaligus menikmati agenda festival yang berlangsung di ruang-ruang terbuka kawasan.

BACA JUGA!
Panduan Berkunjung ke Kota Lama Semarang Saat Festival: Akses dan Aktivitas

Mengapa Kota Lama lebih menarik saat festival?

Kota Lama Semarang pada dasarnya sudah menjadi destinasi wisata tanpa harus menunggu festival. Kawasan ini merupakan cagar budaya yang memiliki deretan bangunan bersejarah peninggalan masa Hindia Belanda, dengan Gereja Blenduk, Taman Srigunting, Gedung Marba, Gedung Oudetrap, hingga berbagai bangunan lama lainnya sebagai bagian dari lanskapnya.

Pemerintah menetapkan Kota Semarang Lama sebagai Kawasan Cagar Budaya Nasional pada 2020. Kawasan tersebut mencakup empat situs yang merepresentasikan perjalanan sejarah Semarang, yakni Kampung Kauman, Kampung Melayu, Kampung Pecinan, dan Oudestad.

Festival kemudian memberikan lapisan pengalaman yang berbeda. Bangunan lama yang biasanya dinikmati melalui aktivitas jalan kaki dan fotografi menjadi latar pertunjukan seni, kegiatan komunitas, kuliner, serta berbagai aktivitas publik.

Kondisi tersebut membuat wisatawan tidak harus memilih antara wisata heritage dan festival. Keduanya dapat dinikmati dalam satu kunjungan.

BACA JUGA!
Mengapa Kota Lama Semarang Disebut Little Netherland? Ini Jejak Sejarahnya

Festival Kota Lama diperpanjang sampai 20 September

Festival Kota Lama Semarang 2026
Festival Kota Lama 2026. (Dok. Ist)

Ada perubahan penting dalam kalender Festival Kota Lama 2026 yang perlu diperhatikan wisatawan. Rangkaian yang semula direncanakan berlangsung 11 hari kemudian diperpanjang menjadi 17 hari, yakni 4–20 September 2026.

Keputusan tersebut berkaitan dengan penyelenggaraan MTQ Nasional XXXI yang berlangsung di Semarang pada 11–20 September. Pemerintah Jawa Tengah memperkirakan sekitar 7.000 orang dari berbagai provinsi hadir dalam gelaran tersebut, sehingga festival diperpanjang agar peserta dan tamu MTQ memiliki kesempatan menikmati Kota Lama.

Dengan demikian, periode 4–20 September menjadi rentang utama yang dapat dipertimbangkan wisatawan untuk mengunjungi Kota Lama dalam suasana festival.

Namun, tidak semua acara berlangsung setiap hari. Beberapa kegiatan hanya digelar pada tanggal tertentu, sehingga wisatawan perlu menyesuaikan waktu kedatangan dengan agenda yang ingin ditonton.

Pasar Malam Sentiling jadi pilihan pencinta kuliner

Salah satu agenda yang paling mudah dinikmati wisatawan adalah Pasar Malam Sentiling. Kegiatan ini berlangsung pada 4–13 September 2026 di Metro Point Kota Lama dan menjadi bagian dari rangkaian festival yang menghadirkan kuliner dengan nuansa tempo dulu.

Pasar malam dapat menjadi pilihan bagi wisatawan yang baru tiba pada sore atau malam hari. Selain menikmati makanan, pengunjung dapat menggabungkan kunjungan dengan berjalan kaki menyusuri kawasan Kota Lama ketika bangunan-bangunan bersejarah mulai diterangi lampu.

Bagi pencinta kuliner, agenda ini memiliki nilai lebih karena pengalaman makan berlangsung di tengah kawasan heritage. Suasana tersebut berbeda dengan sekadar datang ke pusat kuliner modern yang tidak memiliki konteks sejarah seperti Kota Lama.

Wisatawan sebaiknya tetap memeriksa informasi penyelenggara sebelum berangkat karena daftar tenant, jam kegiatan, serta program pendamping dapat berubah selama festival berlangsung.

Musik dan pertunjukan seni hadir di ruang publik

Festival Kota Lama tidak hanya menawarkan kuliner. Sejumlah agenda menempatkan seni pertunjukan di ruang terbuka sehingga wisatawan dapat menikmatinya sambil tetap merasakan karakter kawasan.

Pada 5 September, misalnya, digelar Orchestra on the Street and Dance di fasad Gedung Yayasan Kanisius. Pada malam yang sama juga terdapat Rijsttafel Dinner bersama Nita Aartsen.

Agenda musik kemudian berlanjut melalui Jazz Kota Lama. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian festival dan memberikan pilihan berbeda bagi pengunjung yang ingin menikmati musik di tengah lanskap bangunan bersejarah.

Format seperti ini menjadi salah satu kekuatan festival. Wisatawan tidak selalu harus berada di dalam gedung pertunjukan untuk menikmati seni karena kawasan Kota Lama sendiri digunakan sebagai ruang acara.

Gowes Semarang Heritage mengajak melihat Kota Lama dari sisi berbeda

Gowes Semarang Heritage
Gowes Semarang Heritage. (Dok. Ist)

Bagi wisatawan yang menyukai aktivitas luar ruang, Gowes Semarang Heritage menjadi agenda yang cukup menarik. Kegiatan tersebut digelar pada 6 September dan diikuti ratusan peserta dari berbagai daerah.

Rute bersepeda membawa peserta mengelilingi situs bangunan cagar budaya di kawasan Kota Lama. Kegiatan tersebut tidak semata-mata ditujukan untuk olahraga, tetapi juga mengajak peserta mengenal nilai sejarah dan arsitektur kawasan.

Meskipun agenda gowes telah berlangsung pada 6 September, keberadaannya memperlihatkan karakter Festival Kota Lama yang menggabungkan kegiatan rekreasi, komunitas, kesehatan, dan wisata heritage.

Bagi pengunjung yang datang setelah tanggal tersebut, pengalaman serupa masih dapat dilakukan secara mandiri dengan berjalan kaki atau menggunakan sepeda di kawasan yang memungkinkan.

Ada kegiatan literasi dan cerita untuk generasi muda

Festival juga menyediakan kegiatan yang tidak berorientasi pada pertunjukan semata. Salah satunya adalah Living Book, Living Story, yang menjadi bagian dari program festival dan menghadirkan kegiatan literasi bersama Inge Dumpel pada 7 September.

Program seperti ini memperlihatkan bahwa Festival Kota Lama tidak hanya diarahkan sebagai hiburan wisata. Ada upaya mempertemukan kawasan heritage dengan pendidikan, literasi, dan keterlibatan generasi muda.

Bagi keluarga yang berkunjung, agenda semacam ini dapat menjadi alternatif selain berfoto atau menikmati kuliner. Jadwal dan lokasi kegiatan tetap perlu diperiksa sebelum datang karena sebagian program berlangsung di lokasi tertentu dan tidak selalu terbuka sepanjang hari.

Wayang orang dan folklore menjadi bagian agenda budaya

Wisatawan yang ingin melihat seni pertunjukan tradisional dapat menantikan Wayang Orang on the Street. Agenda tersebut dijadwalkan menjadi bagian dari rangkaian Festival Kota Lama pada 13 September.

Konsep pertunjukan di ruang terbuka membuat seni tradisional hadir lebih dekat dengan pengunjung. Wisatawan dapat menyaksikannya dalam konteks kawasan heritage, bukan hanya sebagai pertunjukan yang berlangsung di gedung kesenian.

Agenda lain yang patut diperhatikan adalah Festival Folklore Kota Lama pada 18–19 September. Pemerintah Jawa Tengah menyebut kegiatan tersebut sebagai salah satu agenda utama pada akhir pekan dalam rangkaian FKL XV 2026.

Bagi wisatawan yang ingin mencari waktu kunjungan dengan konsentrasi acara budaya lebih tinggi, akhir pekan tersebut dapat menjadi salah satu pilihan.

Seribu Angklung Berkebaya menjadi salah satu agenda utama

Pada 19 September, Festival Kota Lama dijadwalkan menghadirkan pertunjukan 1.000 Angklung Berkebaya. Acara tersebut termasuk agenda utama yang disebut pemerintah sebagai bagian dari rangkaian akhir pekan festival.

Kegiatan ini menarik karena memadukan alat musik tradisional dengan unsur busana dan pertunjukan dalam skala besar. Bagi wisatawan yang ingin mendapatkan pengalaman festival dengan nuansa budaya yang kuat, tanggal 19 September menjadi salah satu waktu yang patut diperhatikan.

Pada tanggal yang sama, Festival Kota Lama juga menjadwalkan penampilan Band Linion dari Taiwan berdasarkan susunan agenda yang dipublikasikan panitia dan sejumlah informasi acara.

Perpaduan pertunjukan lokal dan internasional tersebut memperlihatkan bagaimana festival mencoba mempertemukan warisan budaya dengan bentuk seni yang lebih kontemporer.

Wisatawan tetap bisa menikmati Kota Lama tanpa mengikuti festival

Meski sedang berlangsung festival, daya tarik utama Kota Lama tetap berada pada kawasan heritage itu sendiri. Wisatawan dapat berjalan kaki menyusuri jalan pedestrian dan mengamati bangunan-bangunan lama tanpa harus mengikuti seluruh agenda acara.

Gereja Blenduk menjadi salah satu landmark utama. Bangunan yang sekarang dikenal sebagai GPIB Immanuel tersebut memiliki sejarah panjang dan bentuk arsitektur khas dengan kubah besar yang menjadi cirinya.

Di sekitar Gereja Blenduk terdapat Taman Srigunting yang menjadi ruang terbuka publik. Kawasan di sekitarnya juga dipenuhi bangunan bersejarah yang kini digunakan untuk berbagai fungsi, termasuk galeri, museum, kafe, dan restoran.

Gedung Marba, Gedung Oudetrap, Semarang Contemporary Art Gallery, De Spiegel, serta sejumlah bangunan lainnya dapat menjadi bagian dari rute jalan kaki. Tidak semua bangunan dapat dimasuki seperti objek wisata dengan tiket, sehingga pengunjung perlu membedakan antara ruang publik dan bangunan yang memiliki fungsi atau aturan kunjungan tersendiri.

Walking tour bisa membuat kunjungan lebih bermakna

Berjalan kaki menjadi salah satu cara paling sesuai untuk menikmati Kota Lama. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menyebut kawasan pedestrian telah ditata dan wisatawan dapat mengikuti tur reguler yang diselenggarakan komunitas walking tour.

Pilihan ini berguna bagi wisatawan yang ingin memahami mengapa bangunan tertentu penting, bagaimana kawasan tersebut berkembang, dan apa hubungan antara satu bangunan dengan bangunan lainnya.

Tanpa penjelasan konteks, Kota Lama memang mudah berubah menjadi sekadar latar fotografi. Dengan walking tour, detail arsitektur dan sejarah kawasan dapat memberikan pengalaman yang lebih utuh.

Wisatawan juga dapat menyusun rute sendiri dengan menjadikan Gereja Blenduk dan Taman Srigunting sebagai titik awal, kemudian bergerak menuju bangunan-bangunan di sekitarnya.

Kuliner dan kafe melengkapi pengalaman heritage

Festival Kota Lama Semarang 2026
Festival Kota Lama Semarang 2026. (Dok. Pemkot Semarang)

Kota Lama juga berkembang sebagai kawasan kuliner dan ekonomi kreatif. Sejumlah bangunan lama telah digunakan sebagai restoran, kafe, serta ruang kreatif sehingga wisatawan dapat beristirahat setelah berjalan kaki.

Kehadiran kuliner menjadi semakin kuat selama Festival Kota Lama karena salah satu agenda utamanya memang mengangkat pengalaman makanan tempo dulu melalui Pasar Malam Sentiling.

Namun, wisatawan sebaiknya tidak menganggap semua makanan yang dijual dalam festival sebagai makanan tradisional yang berasal dari Kota Semarang. Ada baiknya melihat keterangan tenant dan jenis hidangan untuk mengetahui konteks kuliner yang ditawarkan.

Pendekatan tersebut membuat pengalaman kuliner menjadi lebih informatif, terutama bagi wisatawan yang memang datang untuk mengenal budaya lokal.

Sore dan malam menjadi waktu yang berbeda

Kota Lama memiliki karakter yang berubah sesuai waktu kunjungan. Pada pagi dan siang hari, detail arsitektur lebih mudah diamati dan kawasan cenderung cocok untuk berjalan kaki serta fotografi.

Sore hingga malam memberikan suasana berbeda karena aktivitas kuliner dan pertunjukan festival mulai lebih terasa. Pasar Malam Sentiling, misalnya, berlangsung hingga malam selama periode 4–13 September.

Bagi wisatawan yang memiliki waktu terbatas, kunjungan sore hingga malam dapat menjadi pilihan untuk menggabungkan beberapa pengalaman sekaligus. Pengunjung dapat memulai dengan walking tour, beristirahat di kafe, kemudian melanjutkan ke agenda festival atau kuliner.

Jadwal penting Festival Kota Lama 2026

Berikut sejumlah tanggal yang perlu diperhatikan wisatawan berdasarkan rangkaian agenda yang telah diumumkan:

Tanggal Agenda Keterangan
4–13 September Pasar Malam Sentiling Kuliner tempo dulu di Metro Point
7 September Living Book, Living Story Program literasi bersama Inge Dumpel
13 September Wayang Orang on the Street Pertunjukan seni tradisional
18–19 September Festival Folklore Kota Lama Seni dan budaya Nusantara
19 September 1.000 Angklung Berkebaya Salah satu agenda utama festival
20 September Penutupan rangkaian festival Festival dijadwalkan berakhir

Rangkaian tersebut bukan berarti seluruh kegiatan Festival Kota Lama hanya terdiri dari agenda di atas. Pemerintah menyebut masih ada Orkes on the Street and Dance, Rijsttafel Dinner, Chess Kota Lama, Living Story, Zwemers Belanda, workshop merangkai janur, serta sejumlah kegiatan lain.

Karena sebagian acara memiliki jadwal dan lokasi khusus, wisatawan sebaiknya memeriksa pembaruan dari kanal resmi Festival Kota Lama sebelum berangkat.

Kapan waktu terbaik datang?

Pilihan waktu bergantung pada pengalaman yang ingin dicari. Jika prioritasnya adalah melihat kawasan heritage dengan lebih leluasa, pagi dapat menjadi waktu yang lebih nyaman untuk berjalan kaki dan memotret bangunan.

Jika ingin mengejar kuliner dan suasana festival, sore hingga malam lebih sesuai. Pasar Malam Sentiling berlangsung mulai sore, sementara sejumlah pertunjukan juga dijadwalkan pada sore atau malam hari.

Sementara itu, wisatawan yang ingin melihat agenda budaya utama dapat mempertimbangkan 18–19 September karena Festival Folklore dan pertunjukan 1.000 Angklung Berkebaya dijadwalkan pada periode tersebut.

Perlu diperhitungkan pula bahwa periode 11–20 September bertepatan dengan MTQ Nasional XXXI di Semarang. Aktivitas wisata dan mobilitas di kota berpotensi lebih tinggi karena kedatangan peserta dan tamu dari berbagai daerah.

Hal yang perlu diperhatikan saat berkunjung

Kota Lama merupakan kawasan publik, tetapi tidak berarti seluruh bangunan di dalamnya dapat dimasuki secara bebas. Beberapa bangunan memiliki fungsi sebagai tempat ibadah, galeri, restoran, museum, atau fasilitas lain dengan aturan dan jam kunjungan masing-masing.

Gereja Blenduk, misalnya, tetap merupakan tempat ibadah sehingga wisatawan perlu menghormati aktivitas keagamaan ketika berkunjung. Informasi Pemerintah Kota Semarang juga mencantumkan alamat dan jam operasional Gereja Blenduk untuk kunjungan.

Wisatawan juga sebaiknya tidak hanya berfokus pada spot foto. Menjaga kebersihan, tidak menyentuh bagian bangunan yang rentan, mematuhi batas area, dan menghormati kegiatan masyarakat menjadi bagian penting ketika menikmati kawasan cagar budaya.

Jika membawa kendaraan pribadi, perhatikan pula pengaturan lalu lintas ketika terdapat kegiatan besar. Festival dan acara publik di Kota Lama dapat memengaruhi mobilitas di sekitar kawasan, sehingga berjalan kaki atau menggunakan transportasi umum dari titik yang sesuai dapat menjadi pilihan yang lebih praktis.

Kota Lama bukan sekadar latar foto

Ramainya Festival Kota Lama pada September 2026 memperlihatkan bagaimana kawasan heritage dapat berfungsi sebagai ruang publik yang terus digunakan, bukan sekadar kumpulan bangunan tua.

Wisatawan dapat memilih pengalaman sesuai minat, mulai dari mencicipi kuliner tempo dulu, menikmati musik, menyaksikan wayang dan folklore, mengikuti aktivitas komunitas, melihat pertunjukan budaya, atau sekadar berjalan kaki mengamati arsitektur.

Bagi sahabat Pewarta yang ingin memasukkan Kota Lama ke dalam rencana perjalanan Semarang pada September 2026, periode festival memberikan alasan tambahan untuk datang. Namun, nilai utama kawasan tetap berada pada pertemuan antara sejarah, arsitektur, masyarakat, seni, dan kehidupan kota yang berlangsung di dalamnya.

Dengan begitu, mengunjungi Kota Lama tidak harus berarti mengejar sebanyak mungkin agenda. Pilihan yang lebih menarik justru dapat berupa satu rute jalan kaki, satu atau dua kegiatan festival, waktu untuk menikmati kuliner, lalu membiarkan kawasan heritage tersebut bercerita melalui bangunan dan ruang publik yang masih digunakan hingga sekarang.

Read Entire Article
Bekasi ekspress| | | |