Benarkah MSG bikin bodoh? dr. Tirta menjelaskan fakta konsumsi MSG, risiko hipertensi, dan dampaknya bagi kesehatan.
![]()
Oleh Redaksi Pewarta.co.id
Senin, Agustus 03, 2026
![]() |
| dr. Tirta meluruskan anggapan bahwa konsumsi MSG dapat menurunkan kecerdasan dan menjelaskan risiko sebenarnya bagi kesehatan. (Dok. Ist) |
PEWARTA.CO.ID — Anggapan bahwa terlalu sering mengonsumsi MSG atau micin dapat membuat seseorang menjadi "bodoh" masih banyak dipercaya masyarakat. Padahal, klaim tersebut tidak didukung bukti ilmiah. Menurut penjelasan dokter sekaligus edukator kesehatan, dampak utama konsumsi MSG berlebihan justru lebih berkaitan dengan meningkatnya risiko tekanan darah tinggi.
Istilah "Generasi Micin" pernah ramai digunakan sebagai sebutan untuk Generasi Z atau Gen Z. Julukan itu muncul dari anggapan bahwa kebiasaan mengonsumsi MSG dapat memengaruhi kemampuan berpikir seseorang.
Namun, dari sisi medis, monosodium glutamat (MSG) tidak terbukti menyebabkan penurunan fungsi maupun kemampuan otak.
Penjelasan dr. Tirta soal konsumsi MSG
Penjelasan tersebut disampaikan dokter sekaligus edukator kesehatan, dr. Tirta Mandira Hudhi, melalui video yang diunggah di kanal YouTube pribadinya.
"Sebelum nyampe ke otak, orangnya udah hipertensi dulu. Konsumsi MSG atau monosodium glutamat terlalu berlebihan itu efeknya sama kayak garam, karena sifatnya menarik air," kata dr. Tirta.
Menurutnya, karakteristik MSG mirip dengan garam karena sama-sama memiliki sifat menarik air. Oleh sebab itu, jika dikonsumsi secara berlebihan, MSG berpotensi meningkatkan risiko hipertensi.
"Jadi, konsumsi MSG berlebihan itu akan membuat kalian cenderung mengalami faktor risiko utama menjadi tekanan darah tinggi, walau itu slight atau mild," jelasnya.
Tidak terbukti menurunkan fungsi otak
Dr. Tirta menegaskan bahwa mengaitkan konsumsi MSG dengan penurunan kecerdasan merupakan kesimpulan yang tidak tepat. Ia menjelaskan, apabila ingin menimbulkan dampak langsung terhadap otak, jumlah MSG yang dikonsumsi harus berada pada tingkat yang sangat ekstrem dan tidak realistis untuk dikonsumsi sehari-hari.
Sebagai gambaran, seseorang disebut harus mengonsumsi sekitar satu kilogram MSG dalam sehari, sesuatu yang hampir mustahil dilakukan.
"Jadi ya, buat kawan-kawan semua ya, sebenarnya terlalu banyak MSG terus membuat goblok itu jauh banget hubungannya dan harus dalam jumlah yang sangat besar," tutur dr. Tirta.
Tetap perlu dibatasi
Meski tidak terbukti menyebabkan seseorang menjadi "bodoh", dr. Tirta tetap mengingatkan agar penggunaan MSG tidak berlebihan.
Menurutnya, konsumsi MSG dalam jumlah wajar lebih dianjurkan karena penggunaan berlebihan dapat meningkatkan risiko hipertensi. Selain itu, MSG pada dasarnya hanya berfungsi sebagai penguat cita rasa makanan sehingga tidak perlu digunakan secara berlebihan.
"Jadi, teman-teman, MSG itu konsumsinya harus dibatasi per hari, karena berisiko menyebabkan gangguan hipertensi. Udah, itu aja. Dan MSG itu kan sebenarnya penguat rasa. Rasa manis jadi sangat manis, rasa gurih jadi sangat gurih," pungkasnya.



















































