Pulau Sumba Menyimpan Banyak Hidden Gem, Mana yang Layak Masuk Daftar Perjalanan?

22 hours ago 20
Panorama laguna dan pesisir Pulau Sumba saat matahari terbenam
Panorama laguna jernih dan pesisir Pulau Sumba dengan wisatawan menikmati pemandangan saat matahari terbenam. (Dok. PEWARTA)

PEWARTA.CO.ID — Pulau Sumba sering lebih dulu dikenal lewat lanskap sabana, kampung adat, dan pantai-pantai yang fotogenik. Namun, ketika perjalanan diperpanjang keluar dari destinasi yang paling sering muncul di media sosial, pulau ini memperlihatkan lapisan lain berupa laguna air asin, air terjun di kawasan hutan, perbukitan, hingga desa tradisional yang masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Istilah hidden gem Sumba sendiri sebenarnya bukan kategori resmi pariwisata. Sebutan tersebut lebih tepat digunakan untuk destinasi yang relatif tidak sepopuler ikon utama Sumba, meski memiliki karakter alam atau budaya yang kuat dan layak dipertimbangkan dalam itinerary.

Pola ini terlihat dari daftar destinasi yang dipublikasikan pemerintah daerah maupun platform resmi pariwisata Indonesia. Kabupaten Sumba Barat, misalnya, mencatat puluhan objek wisata alam dan sejarah, sementara Indonesia Travel juga memasukkan sejumlah lokasi seperti Danau Weekuri, Pantai Mandorak, Air Terjun Tanggedu, dan Savana Puru Kambera sebagai bagian dari pengalaman menjelajahi Sumba.

Pertanyaannya kemudian bukan sekadar tempat mana yang indah, melainkan destinasi mana yang memberikan pengalaman berbeda dan masih masuk akal untuk dimasukkan ke dalam perjalanan.

Danau Weekuri menawarkan pengalaman laguna yang berbeda

Danau Weekuri

Danau Weekuri di Kabupaten Sumba Barat Daya merupakan salah satu pilihan yang paling mudah menjelaskan mengapa wisata Sumba tidak selalu identik dengan pantai. Lokasi ini merupakan danau air asin di Desa Kalena Rongo dengan air berwarna biru kehijauan yang dikelilingi formasi karang.

Karakter airnya berkaitan dengan posisi laguna yang terhubung dengan laut melalui celah-celah batu karang. Karena terlindungi formasi alami, kawasan tersebut menawarkan pengalaman yang berbeda dari berenang langsung di laut terbuka.

Bagi wisatawan, aktivitas utamanya dapat berupa berenang, menikmati panorama dari tepian, atau berjalan di jalur yang mengelilingi kawasan laguna. Indonesia Travel juga mencatat keberadaan jembatan dan jalur untuk menikmati lanskap sekitar, serta fasilitas sederhana bagi pengunjung.

Weekuri juga menarik karena letaknya berdekatan dengan Pantai Mandorak. Dua destinasi ini dapat ditempatkan dalam satu perjalanan sehingga waktu tempuh antarlokasi menjadi lebih efisien.

Pantai Mandorak cocok untuk pencari lanskap dramatis

Pantai Mandorak

Tidak jauh dari Weekuri terdapat Pantai Mandorak yang memiliki karakter berbeda. Pantai ini diapit tebing karang dan memiliki celah sempit di antara dua formasi batu yang menjadi ciri visual utamanya.

Keistimewaan Mandorak justru bukan kawasan pantai yang luas. Ruang pantainya relatif kecil, sedangkan tebing dan laut menjadi elemen utama yang membentuk pemandangan.

Indonesia Travel menyebut akses ke Pantai Mandorak cukup menantang dan fasilitas di sekitarnya belum selengkap destinasi yang lebih berkembang. Karena itu, pengunjung perlu menyiapkan kebutuhan dasar sendiri dan tidak mengandalkan kawasan tersebut sebagai pusat layanan wisata.

Ada hal penting yang perlu diperhatikan saat berkunjung ke pantai selatan Sumba. Indonesia Travel mencatat ombak di Mandorak sangat kuat pada kondisi tertentu sehingga aktivitas berenang tidak disarankan.

Dengan karakter seperti itu, Mandorak lebih tepat dimasukkan ke itinerary untuk menikmati lanskap dan fotografi daripada menjadikannya tujuan utama untuk bermain air.

Lapopu membawa perjalanan masuk ke lanskap hutan

Lapopu

Bila sebagian besar destinasi Sumba yang dikenal wisatawan berada di pesisir atau sabana, Air Terjun Lapopu memberikan pengalaman yang berbeda. Kabupaten Sumba Barat mencatat Lapopu sebagai objek wisata alam di Kecamatan Wanukaka.

Indonesia Travel juga memasukkan Lapopu dalam paket perjalanan Sumba bersama Prai Ijing dan Waikelo Sawah. Dalam salah satu rancangan perjalanan tersebut, wisatawan mencapai kawasan air terjun melalui perjalanan darat dilanjutkan berjalan kaki melewati lingkungan alami.

Daya tarik Lapopu terletak pada air yang mengalir melalui formasi bertingkat sebelum jatuh ke kolam alami. Pengalaman menuju lokasi menjadi bagian dari daya tarik karena wisatawan tidak sekadar turun dari kendaraan lalu langsung berada di depan air terjun.

Bagi wisatawan yang ingin memasukkan unsur petualangan ke dalam daftar destinasi Sumba, Lapopu lebih relevan dibandingkan sekadar mengejar spot foto. Perjalanan sebaiknya disusun bersama pemandu lokal jika kondisi jalur membutuhkan pendampingan.

Matayangu layak dipilih untuk perjalanan yang lebih serius

Matayangu

Di kawasan Sumba Tengah terdapat Air Terjun Matayangu yang karakternya jauh lebih menantang. Indonesia Travel menyebutnya sebagai air terjun bertingkat dengan ketinggian sekitar 75 meter yang berada di Desa Waimanu, Kecamatan Katikutana Selatan.

Matayangu berada dalam lanskap yang lebih terpencil dibandingkan destinasi wisata Sumba yang aksesnya mudah. Sumber pariwisata lain yang menawarkan perjalanan ke kawasan tersebut mencatat trekking sekitar satu setengah jam dan menyebut jalurnya membutuhkan kondisi fisik serta perlengkapan yang sesuai.

Karakter seperti ini membuat Matayangu tidak cocok dimasukkan hanya karena sedang mencari tempat yang berbeda untuk berfoto. Destinasi tersebut lebih tepat bagi wisatawan yang memang menyukai perjalanan alam dan siap mengalokasikan waktu khusus untuk trekking.

Ada pula alasan praktis untuk tidak menggabungkannya dengan terlalu banyak lokasi dalam satu hari. Rute yang mengandung perjalanan kaki lebih panjang membutuhkan ruang waktu agar wisatawan tidak terburu-buru di lapangan.

Waikelo Sawah menunjukkan sisi hijau Sumba

Waikelo Sawah

Nama Sumba sering identik dengan padang rumput berwarna keemasan, tetapi Waikelo Sawah memperlihatkan lanskap yang jauh berbeda. Kawasan ini berupa area persawahan yang dialiri sumber air dan memiliki air terjun kecil di sekitarnya.

Indonesia Travel memasukkan Waikelo Sawah dan Air Terjun Waikacura dalam satu rangkaian perjalanan menjelajahi Sumba Barat. Sumber tersebut menggambarkan Waikelo Sawah sebagai kawasan persawahan yang dikelilingi lanskap hijau, sedangkan Waikacura menjadi pelengkap perjalanan dengan karakter air terjun yang lebih kecil.

Keunggulan lokasi ini berada pada kontrasnya. Pengunjung mendapatkan pemandangan air, sawah, serta vegetasi hijau di pulau yang lebih sering diasosiasikan dengan sabana dan bentang alam kering.

Karena lokasinya dapat dipadukan dengan sejumlah tujuan di Sumba Barat, Waikelo Sawah juga masuk akal bagi wisatawan yang ingin membangun itinerary berdasarkan klaster wilayah daripada berpindah secara acak.

Prai Ijing mempertemukan lanskap dan kehidupan kampung adat

Prai Ijing

Wisata Sumba tidak akan lengkap bila seluruh daftar perjalanan hanya berisi pantai dan air terjun. Kampung Prai Ijing di kawasan Waikabubak menawarkan perspektif berbeda mengenai arsitektur tradisional dan kehidupan masyarakat Sumba. Pemerintah Kabupaten Sumba Barat memasukkan Praiijing dalam daftar objek wisata sejarah daerah tersebut.

Indonesia Travel menggambarkan Prai Ijing sebagai kampung tradisional yang berada di kawasan perbukitan dengan rumah beratap tinggi dan makam batu. Lokasinya juga menjadi bagian dari sejumlah paket perjalanan yang menggabungkan wisata alam dan budaya Sumba Barat.

Yang membuat kampung seperti ini penting dalam itinerary bukan sekadar bentuk rumah adat. Wisatawan dapat melihat hubungan antara bangunan, lanskap, tradisi, tenun, dan aktivitas sehari-hari yang masih berlangsung di lingkungan masyarakat.

Saat berkunjung ke kampung adat, etika perlu menjadi bagian dari persiapan. Menghormati aturan setempat, tidak memasuki area tertentu tanpa izin, dan meminta persetujuan sebelum memotret warga merupakan bagian penting dari pengalaman wisata budaya.

Air Terjun Tanggedu menghadirkan formasi batu yang unik

Air Terjun Tanggedu

Bergerak ke Sumba Timur, Air Terjun Tanggedu menawarkan lanskap yang berbeda lagi. Destinasi ini berada di Desa Tanggedu, Kecamatan Kanatang, dan dikenal dengan formasi batuan seperti ngarai yang membuatnya mendapat julukan "Grand Canyon" dari Sumba Timur.

Airnya yang jernih mengalir di antara tebing dan batuan sehingga pengalaman di Tanggedu lebih terasa seperti menjelajah bentang alam daripada sekadar mendatangi air terjun. Indonesia Travel mencatat lokasi ini dapat dicapai melalui aktivitas trekking sebelum pengunjung tiba di area air terjun.

Destinasi ini cocok dimasukkan ketika perjalanan memang memberi ruang untuk aktivitas luar ruang. Waktu tempuh di jalan dan kondisi jalur perlu diperhitungkan karena Sumba memiliki jarak antardestinasi yang tidak selalu pendek.

Untuk alasan keamanan, kondisi cuaca juga sebaiknya menjadi pertimbangan sebelum masuk ke area sungai atau kolam alami. Keindahan air yang jernih tidak berarti seluruh bagian perairan otomatis aman untuk berenang.

Puru Kambera menggabungkan pantai dan sabana

Puru Kambera

Savana Puru Kambera dan pantainya merupakan pilihan yang menarik bagi wisatawan yang ingin mendapatkan dua karakter lanskap dalam satu kawasan. Indonesia Travel menggambarkan savana Puru Kambera sebagai bentang alam luas yang juga menjadi habitat bagi kuda liar yang lebih sering terlihat pada musim kering.

Tidak jauh dari konteks lanskap tersebut terdapat Pantai Puru Kambera yang dikenal dengan pasir putih, air jernih, dan suasana relatif tenang. Platform resmi Indonesia Travel secara khusus menggambarkannya sebagai tempat bagi wisatawan yang ingin menjauh dari keramaian dan menikmati aktivitas seperti berenang atau snorkeling.

Kombinasi ini membuat Puru Kambera menarik untuk perjalanan yang mengejar variasi pemandangan. Dalam satu kawasan, wisatawan dapat menemukan bentang sabana dan garis pantai yang sama-sama menjadi bagian penting dari karakter Sumba Timur.

Perlu dicatat bahwa keberadaan kuda liar bukan berarti wisatawan bebas mendekati atau menyentuhnya. Indonesia Travel mengingatkan bahwa hewan tersebut perlu didekati dengan hati-hati karena sifatnya yang lincah dan tidak terbiasa dengan interaksi wisatawan.

Bukit Tanarara cocok untuk menikmati perjalanan, bukan sekadar titik tujuan

Bukit Tanarara

Bukit Tanarara memiliki daya tarik yang sangat berbeda dari pantai dan air terjun. Indonesia Travel menggambarkan kawasan ini sebagai rangkaian perbukitan dengan jalan berkelok yang menjadi bagian dari panorama, dengan lokasi sekitar 19 kilometer dari pusat wilayah Sumba Timur menurut informasi yang dipublikasikan di platform tersebut.

Tanarara menarik karena pengalaman visualnya tidak bertumpu pada satu objek. Lengkungan jalan, kontur bukit, dan perubahan warna lanskap menjadi bagian dari perjalanan menuju dan melewati kawasan tersebut.

Destinasi semacam ini cocok bagi wisatawan yang menyukai perjalanan darat. Berhenti di titik yang aman dan tidak mengganggu lalu lintas jauh lebih penting daripada mengejar komposisi foto di tengah jalan.

Lalu, mana yang layak masuk daftar perjalanan?

Tidak ada satu destinasi yang otomatis cocok untuk semua wisatawan karena karakter masing-masing lokasi berbeda. Cara yang lebih masuk akal adalah memilih berdasarkan jenis pengalaman yang ingin didapatkan.

Destinasi Wilayah Karakter utama Cocok untuk
Danau Weekuri Sumba Barat Daya Laguna air asin, tebing karang Berenang, santai, fotografi
Pantai Mandorak Sumba Barat Daya Tebing dan pantai kecil Lanskap, fotografi
Air Terjun Lapopu Sumba Barat Air terjun dan hutan Alam, trekking ringan
Matayangu Sumba Tengah Air terjun terpencil Trekking, petualangan
Waikelo Sawah Sumba Barat Persawahan dan sumber air Lanskap hijau, perjalanan santai
Prai Ijing Sumba Barat Kampung adat Budaya, arsitektur, tenun
Tanggedu Sumba Timur Air terjun dan formasi batu Trekking, wisata alam
Puru Kambera Sumba Timur Sabana dan pantai Alam, pantai, fotografi
Tanarara Sumba Timur Perbukitan dan jalan berkelok Road trip, fotografi

Daftar tersebut bukan urutan peringkat. Pilihan tempat lebih baik disesuaikan dengan waktu perjalanan, titik kedatangan, kondisi fisik, minat, serta kesiapan terhadap akses yang berbeda-beda.

Cara menyusun destinasi agar tidak terlalu banyak waktu di jalan

Kesalahan yang cukup mudah terjadi ketika merencanakan wisata Sumba adalah memasukkan semua tempat menarik dalam satu itinerary. Pulau ini memiliki sejumlah destinasi yang berjauhan, sehingga perjalanan yang terlalu padat justru dapat membuat sebagian besar waktu habis di kendaraan.

Untuk perjalanan di Sumba Barat Daya, misalnya, Danau Weekuri dan Pantai Mandorak relatif logis ditempatkan dalam satu rangkaian. Kedua lokasi tersebut bahkan kerap muncul dalam paket perjalanan yang sama, bersama destinasi budaya di kawasan Kodi.

Rangkaian lain dapat dibuat untuk kawasan Sumba Barat dengan menggabungkan Waikelo Sawah, Waikacura, Lapopu, dan Prai Ijing. Indonesia Travel juga menempatkan sejumlah lokasi tersebut dalam rute perjalanan budaya dan alam.

Sementara itu, Sumba Timur lebih cocok diperlakukan sebagai klaster perjalanan tersendiri. Puru Kambera, Tanggedu, dan kawasan perbukitan seperti Tanarara dapat dipertimbangkan bersama apabila rute dan kondisi jalan memungkinkan.

Wisatawan yang ingin menjelajahi lintas wilayah juga dapat menggunakan pola perjalanan masuk dari satu sisi Sumba dan keluar dari sisi lain. Paket perjalanan yang dipublikasikan Indonesia Travel, misalnya, menunjukkan skema kedatangan melalui Bandara Lede Kalumbang di Tambolaka dan perjalanan berakhir di Bandara Umbu Mehang Kunda di Waingapu.

Hidden gem bukan berarti selalu sepi

Ada satu hal yang perlu diluruskan ketika menggunakan istilah hidden gem. Sebuah destinasi dapat disebut relatif tersembunyi dibandingkan ikon wisata utama, tetapi tidak berarti tempat tersebut pasti kosong atau belum diketahui wisatawan.

Danau Weekuri, Mandorak, Tanggedu, Puru Kambera, serta beberapa destinasi lain sudah muncul dalam materi promosi pariwisata resmi. Popularitasnya pun dapat berubah berdasarkan musim, akhir pekan, cuaca, akses, dan perkembangan fasilitas.

Karena itu, nilai sebuah hidden gem Sumba sebaiknya tidak diukur hanya dari seberapa sedikit orang yang datang. Pengalaman yang ditawarkan, karakter lanskap, hubungan dengan budaya lokal, serta kualitas perjalanan menuju lokasi justru lebih relevan untuk menentukan apakah tempat tersebut layak masuk daftar.

Persiapan sebelum mengejar destinasi yang lebih tersembunyi

Semakin jauh sebuah destinasi dari pusat kota dan jalur wisata utama, semakin penting persiapannya. Air minum, perlindungan dari matahari, alas kaki yang sesuai, pakaian ganti untuk destinasi air, uang tunai, serta perlengkapan komunikasi menjadi kebutuhan dasar yang sebaiknya tidak diabaikan.

Untuk destinasi dengan trekking seperti Lapopu, Tanggedu, atau terutama Matayangu, kondisi jalur harus menjadi pertimbangan utama. Informasi perjalanan mengenai Matayangu bahkan menyebut jalurnya lebih menantang dan membutuhkan perlengkapan berjalan yang sesuai.

Kondisi laut juga perlu diperhatikan sebelum memutuskan berenang. Pada Pantai Mandorak, misalnya, informasi resmi pariwisata menyebut gelombang yang kuat sehingga kawasan tersebut lebih cocok untuk menikmati pemandangan daripada berenang.

Untuk kampung adat, persiapan tidak berhenti pada perlengkapan fisik. Memahami tata krama lokal dan mengikuti arahan masyarakat setempat menjadi bagian dari perjalanan agar wisata tidak mengganggu aktivitas komunitas.

Pada akhirnya, daya tarik Sumba justru terasa ketika perjalanan tidak diperlakukan sebagai lomba mengumpulkan sebanyak mungkin lokasi. Memilih beberapa hidden gem yang sesuai dengan karakter perjalanan akan memberi ruang lebih besar untuk menikmati lanskap, berinteraksi dengan lingkungan, dan memahami alasan mengapa Pulau Sumba memiliki pengalaman wisata yang jauh lebih beragam daripada sekadar sabana dan pantai.

Read Entire Article
Bekasi ekspress| | | |