![]() |
| Kuliner khas Flores mengguggah selera, wajib dicoba saat berkunjung. (Ilustrasi/PEWARTA.co.id) |
PEWARTA.CO.ID — Menjelajahi Flores, Nusa Tenggara Timur, tidak cukup hanya dengan mendatangi Labuan Bajo, Wae Rebo, Danau Kelimutu, atau desa-desa adat. Pulau ini juga memiliki kekayaan kuliner yang lahir dari bahan pangan lokal, tradisi masyarakat, serta kondisi geografis yang berbeda antara kawasan pesisir dan pegunungan.
Ada makanan yang menggunakan jagung sebagai bahan utama, ada nasi yang dimasak di dalam bambu, olahan daging dengan teknik pengasapan, sayuran dari kebun, hingga kudapan renyah yang biasa dibawa pulang sebagai oleh-oleh. Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur juga mendokumentasikan sejumlah pangan tradisional Flores sebagai bagian dari kekayaan pariwisata dan ekonomi kreatif daerah.
Karena Flores merupakan pulau yang panjang dengan beragam komunitas dan wilayah budaya, istilah “makanan khas Flores” tidak selalu berarti satu hidangan berasal dari seluruh penjuru pulau. Beberapa makanan lebih kuat identitasnya di daerah tertentu, tetapi tetap dikenal luas sebagai bagian dari kuliner Flores.
Kuliner Flores lahir dari bahan pangan lokal
Salah satu ciri yang mudah ditemukan dalam kuliner Flores adalah pemanfaatan bahan yang tersedia di lingkungan sekitar. Jagung, ubi, beras, kelapa, sayuran, hasil kebun, serta ikan menjadi bagian penting dari berbagai hidangan tradisional.
Kondisi geografis juga ikut membentuk kebiasaan makan masyarakat. Kawasan pesisir memiliki pilihan hasil laut yang melimpah, sedangkan beberapa wilayah pedalaman dan dataran tinggi memiliki tradisi mengolah jagung serta umbi sebagai sumber karbohidrat.
Dokumentasi Indonesia Travel menyebut makanan tradisional Flores antara lain Ubi Nuabosi, Jawada, Catemak Jagung, Tapa Kolo, dan se'i. Ragam tersebut menunjukkan bahwa kuliner Flores memiliki karakter yang jauh lebih luas daripada satu atau dua makanan yang paling populer di kalangan wisatawan.
Tapa Kolo, nasi yang dimasak dalam bambu
![]() |
| Tapa Kolo. (Dok. Ist) |
Jika ingin mencoba makanan yang memiliki hubungan kuat dengan tradisi Manggarai, Tapa Kolo patut masuk daftar. Hidangan ini berupa nasi yang dimasak di dalam bambu dengan teknik pembakaran di atas bara.
Indonesia Travel menjelaskan bahwa Tapa Kolo menggunakan beras merah lokal yang dikenal sebagai deal aka. Bambu berisi beras kemudian dipanggang hingga matang, menghasilkan aroma khas dari proses memasak tersebut.
Tapa Kolo juga memiliki dimensi budaya karena biasa disajikan dalam ritual adat, upacara, atau acara tertentu. Lauknya dapat berupa ayam, babi, maupun jenis daging lainnya sesuai tradisi dan ketersediaan di daerah setempat.
Dalam perkembangan wisata kuliner Flores, Tapa Kolo menjadi salah satu makanan yang menarik karena cara memasaknya sendiri sudah merupakan pengalaman. Wisatawan tidak sekadar mencicipi nasi, tetapi juga melihat bagaimana bambu digunakan sebagai bagian dari proses pengolahan pangan.
Catemak jagung, sederhana tetapi mengenyangkan
![]() |
| Catemak jagung. (Dok. Ist) |
Jagung memiliki posisi penting dalam sejarah pangan masyarakat Nusa Tenggara Timur. Salah satu olahannya yang dikenal di Flores adalah Catemak Jagung.
Hidangan ini dibuat dari jagung yang dimasak bersama kacang-kacangan dan labu. Rasanya gurih, bukan manis seperti anggapan sebagian orang yang melihat bentuknya menyerupai makanan penutup.
Bahan yang sederhana justru menjadi daya tarik Catemak Jagung. Jagung memberikan tekstur yang khas, sementara kacang dan labu membuat hidangan terasa lebih padat ketika disantap.
Bagi wisatawan, makanan ini dapat menjadi cara sederhana untuk memahami bagaimana bahan pangan lokal digunakan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Flores.
Ubi Nuabosi, pangan lokal dari Ende
![]() |
| Ubi Nuabosi. (Dok. Ist) |
Ubi Nuabosi merupakan salah satu pangan yang berkaitan dengan wilayah Ende di Flores. Indonesia Travel mencatat ubi ini populer di Flores dan dapat diolah dengan cara direbus, digoreng, atau dipanggang.
Ubi tersebut secara tradisional digunakan sebagai sumber karbohidrat dan dapat disantap bersama ikan asin maupun lauk lainnya. Posisi ubi sebagai sumber pangan menunjukkan bahwa pola makan di Flores tidak selalu bertumpu pada nasi.
Bagi pengunjung yang datang ke Ende, mencicipi olahan Ubi Nuabosi memberikan pengalaman berbeda dari sekadar mencoba makanan yang dibuat khusus untuk wisatawan. Pangan lokal seperti ini berkaitan langsung dengan kebiasaan makan masyarakat setempat.
Rumpu rampe, sayuran dengan rasa khas
![]() |
| Rumpu Rampe makanan asli Flores. (Dok. Ist) |
Rumpu rampe menjadi salah satu kuliner yang menarik bagi wisatawan yang ingin mencoba hidangan berbahan sayuran. Hidangan ini dikenal sebagai tumisan yang menggunakan bahan seperti bunga pepaya, daun pepaya, dan daun singkong.
Portal wisata Labuan Bajo yang berada di bawah ekosistem Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mencantumkan rumpu rampe sebagai salah satu kuliner Flores. Cara pengolahannya membuat rasa pahit dari bahan tertentu menjadi lebih seimbang dengan bumbu yang digunakan.
Bahan-bahan tersebut menunjukkan hubungan yang kuat antara dapur Flores dan tanaman yang mudah diperoleh dari lingkungan sekitar. Rumpu rampe biasanya lebih tepat ditempatkan sebagai pendamping lauk daripada hidangan tunggal.
Untuk wisatawan yang belum terbiasa dengan bunga atau daun pepaya sebagai bahan masakan, rasa rumpu rampe bisa menjadi pengalaman kuliner tersendiri. Karakternya berbeda dari tumisan sayuran yang umum ditemukan di Jawa atau wilayah Indonesia lainnya.
BACA JUGA!Cara Menuju Wae Rebo dari Labuan Bajo, Rute dan Persiapan yang Perlu Diketahui
Se'i, teknik pengasapan yang menghasilkan aroma kuat
![]() |
| Daging Se'i. (Dok. Ist) |
Se'i merupakan salah satu makanan yang paling mudah diasosiasikan dengan kuliner Nusa Tenggara Timur. Hidangan ini berupa daging yang diiris dan dimatangkan dengan teknik pengasapan, menghasilkan aroma serta cita rasa khas.
Indonesia Travel menjelaskan se'i sebagai daging asap yang secara tradisional dapat menggunakan daging sapi atau babi, sementara variasi ikan juga dikenal. Proses memasaknya mengandalkan panas dan asap dari api yang tidak langsung menyentuh daging seperti pada proses pembakaran biasa.
Ada satu catatan penting bagi pembaca ketika menyebut se'i sebagai makanan khas Flores. Asal-usul se'i secara budaya lebih kuat dikaitkan dengan masyarakat Rote, tetapi hidangan tersebut kemudian populer luas di Nusa Tenggara Timur, termasuk Flores. Portal wisata Labuan Bajo juga secara eksplisit menjelaskan bahwa se'i sapi populer di Flores meskipun berasal dari Rote.
Se'i biasanya disantap bersama nasi, sayuran, dan sambal. Karakter asapnya menjadi bagian utama pengalaman makan sehingga hidangan ini cocok bagi wisatawan yang ingin mencoba rasa gurih dengan aroma panggang yang lebih kuat.
Ikan kuah asam untuk merasakan cita rasa pesisir
![]() |
| Ikan kuaha asam. (Dok. Ist) |
Flores memiliki garis pantai yang panjang sehingga hasil laut menjadi bagian penting dari kulinernya. Di kawasan Labuan Bajo dan wilayah pesisir lainnya, ikan segar dapat diolah menjadi berbagai masakan, salah satunya ikan kuah asam.
Portal wisata Labuan Bajo mencatat ikan kuah asam sebagai hidangan yang umum direkomendasikan bagi wisatawan. Ikan seperti kerapu atau kakap dimasak dalam kuah dengan rempah seperti kunyit dan jahe, kemudian diberi unsur asam dari belimbing wuluh atau asam jawa.
Karakter kuahnya membuat hidangan ini terasa berbeda dari ikan bakar atau ikan goreng. Rasa asam yang segar juga cocok disantap setelah aktivitas wisata di kawasan pesisir yang memiliki cuaca relatif panas.
Pilihan ikan dapat mengikuti hasil tangkapan dan ketersediaan di tempat makan. Karena itu, wisatawan tidak perlu menganggap satu jenis ikan sebagai komponen yang selalu digunakan dalam setiap resep ikan kuah asam di Flores.
Jagung titi, camilan renyah dari Flores Timur
![]() |
| Jagung titi. (Dok. Ist) |
Jagung titi merupakan salah satu camilan yang memiliki hubungan erat dengan masyarakat Lamaholot di Flores Timur, Lembata, Adonara, dan Solor. Indonesia Travel menjelaskan bahwa makanan ini pada awalnya berkaitan dengan pemanfaatan jagung sebagai sumber pangan utama di wilayah tersebut.
Biji jagung diproses dengan teknik tradisional hingga menjadi pipih dan renyah. Kini jagung titi lebih banyak dikenal sebagai camilan sekaligus oleh-oleh.
Bentuk dan proses pembuatannya menjadi bagian yang menarik untuk diperhatikan. Jagung yang sederhana dapat berubah menjadi makanan ringan yang tahan disimpan dan mudah dibawa dalam perjalanan.
Bagi wisatawan, jagung titi bisa menjadi pilihan oleh-oleh yang praktis, terutama jika perjalanan masih berlanjut ke sejumlah destinasi lain sebelum kembali ke kota asal.
Jawada atau kue rambut untuk oleh-oleh
![]() |
| Jawada atau kue rambut. (Dok. Ist) |
Kudapan lain yang menarik adalah Jawada, yang juga dikenal sebagai kue rambut. Bentuknya tipis, keriting, dan biasanya menyerupai helaian rambut sehingga mudah dikenali.
Dokumen Database Pariwisata dan Ekonomi Kreatif NTT 2024 menyebut Jawada sebagai makanan yang berasal dari Pulau Flores dan Alor. Kue berbentuk segitiga tersebut dibuat dari tepung beras, gula aren atau gula merah, santan, air nira, garam, dan minyak.
Indonesia Travel juga menjelaskan bahwa Jawada memiliki bentuk segitiga berwarna cokelat keemasan dengan tekstur renyah. Adonan tipis dibuat melalui lubang-lubang kecil sebelum digoreng sehingga menghasilkan bentuk khas seperti rambut.
Jawada cocok dimasukkan dalam daftar oleh-oleh karena bentuknya unik dan dapat dinikmati sebagai teman minum kopi. Makanan ini juga biasa dikaitkan dengan acara istimewa dan kegiatan adat di sejumlah komunitas.
Kopi Flores melengkapi perjalanan kuliner
![]() |
| Kopi Manggarai Flores. (Dok. Ist) |
Setelah mencoba makanan tradisional, kopi menjadi pilihan yang masuk akal untuk melengkapi pengalaman kuliner. Flores memiliki sejumlah kawasan penghasil kopi, termasuk wilayah Manggarai dan Bajawa.
Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur mencatat kopi Flores sebagai salah satu potensi ekonomi kreatif kuliner daerah. Dokumen RPJMD provinsi juga menyebut kopi Flores memiliki keragaman cita rasa dan potensi pengembangan sebagai produk ekonomi kreatif.
Di kawasan Manggarai, kopi juga menjadi bagian dari pengalaman wisata. Portal wisata Labuan Bajo mencantumkan Kopi Manggarai sebagai salah satu produk kuliner yang dapat dinikmati wisatawan, dengan karakter yang dipengaruhi oleh daerah penghasil dan jenis kopinya.
Bagi pencinta kopi, membeli biji atau bubuk kopi dari daerah asal dapat menjadi alternatif oleh-oleh yang lebih mudah dibawa dibandingkan makanan basah. Namun, pilihan kopi sebaiknya disesuaikan dengan daerah yang sedang dikunjungi karena Flores memiliki beberapa sentra produksi dengan karakter berbeda.
Oleh-oleh Flores tidak selalu berupa makanan siap santap
Jika tujuan perjalanan adalah membawa buah tangan, pilihan kuliner Flores dapat dibagi menjadi dua kelompok. Makanan yang dapat langsung disantap seperti Tapa Kolo atau ikan kuah asam lebih tepat dinikmati di tempat, sedangkan Jawada dan jagung titi relatif lebih praktis untuk dibawa.
Perbedaan ini penting bagi wisatawan yang memiliki perjalanan panjang setelah meninggalkan Flores. Makanan basah atau hidangan yang baru dimasak memiliki kebutuhan penyimpanan berbeda dengan makanan kering yang memang dibuat sebagai kudapan.
Sahabat Pewarta juga sebaiknya membeli oleh-oleh dari pelaku usaha atau penjual lokal yang jelas asal produknya. Dengan begitu, pengalaman wisata kuliner sekaligus ikut terhubung dengan ekonomi masyarakat di daerah yang dikunjungi.
Setiap wilayah Flores punya cerita kulinernya sendiri
Mencicipi makanan khas Flores berarti mengenal pulau yang memiliki keragaman budaya dan lingkungan dalam satu perjalanan. Tapa Kolo memperlihatkan tradisi memasak dengan bambu, Catemak Jagung dan Ubi Nuabosi menunjukkan pentingnya pangan lokal, sementara ikan kuah asam merepresentasikan kedekatan masyarakat pesisir dengan hasil laut.
Rumpu rampe, jagung titi, dan Jawada menambah warna lain melalui sayuran, camilan, serta teknik pengolahan tradisional. Se'i pun menarik dicoba di Flores, dengan catatan bahwa hidangan tersebut lebih tepat disebut sebagai kuliner NTT yang populer di Flores, bukan makanan yang secara eksklusif berasal dari pulau tersebut.
Pada akhirnya, kuliner Flores memberikan cara lain untuk membaca karakter sebuah daerah. Di balik semangkuk makanan atau sebungkus oleh-oleh, ada bahan pangan yang tumbuh di lingkungan setempat, teknik memasak yang diwariskan, serta kebiasaan masyarakat yang membuat perjalanan ke Flores terasa lebih lengkap.




























































