BGN menyebut keracunan MBG di Sidoarjo terjadi karena SPPG Kalitengah sengaja mengabaikan prosedur pelabelan dan waktu konsumsi makanan.
![]()
Oleh Redaksi PEWARTA
Jumat, September 04, 2026
![]() |
| Kepala BGN Sudaryono menyampaikan hasil penelusuran insiden keracunan MBG di Sidoarjo. (Dok. Ist) |
PEWARTA.CO.ID — Badan Gizi Nasional (BGN) menyebut insiden keracunan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Pondok Pesantren Manbaul Hikam Putat, Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur, terjadi setelah prosedur yang telah ditetapkan tidak dijalankan oleh SPPG Kalitengah.
Kepala BGN Sudaryono menyebut kondisi tersebut sebagai kelalaian yang disengaja. Kesimpulan itu disampaikan setelah BGN melakukan penelusuran terhadap kronologi kejadian dan pelaksanaan prosedur di lapangan.
"Ini kelalaian yang disengaja. Aturan sudah diberikan, juklak-juknis sudah diberikan, cara sudah diberikan, tapi anda lalai dalam melaksanakan ini. Namanya kelalaian disengaja," ujar Sudaryono di akun Instagram pribadinya, Kamis (3/9/2026).
Label makanan tidak diterapkan pada setiap ompreng
Dari penelusuran awal, BGN menemukan dugaan pelanggaran pada prosedur pelabelan makanan yang dibagikan kepada penerima manfaat.
Sudaryono mengatakan ahli gizi dan kepala dapur SPPG Kalitengah tidak memberikan label pada setiap ompreng makanan. Label disebut hanya diberikan satu untuk setiap PIC.
"Kasus keracunan di Sidoarjo, kita sudah cek kronologis, sudah cek juga di Radar MBG. Bahwa ternyata ahli gizi dan juga kepala dapur itu kemudian tidak melabeli semua omprengnya. Hanya dikasih label satu untuk satu PIC," ujarnya.
Menurut Sudaryono, persoalan waktu antara produksi, pengiriman, dan konsumsi makanan juga menjadi bagian penting dalam temuan tersebut.
Makanan disebut dimasak sekitar pukul 05.00 WIB sehingga seharusnya dikonsumsi sebelum pukul 09.00 WIB. Namun, label yang tercantum pada makanan menyatakan makanan dapat dikonsumsi hingga pukul 10.00 WIB.
Makanan tiba di sekolah sekitar pukul 11.30 WIB
Dalam praktiknya, makanan tersebut baru tiba di sekolah sekitar pukul 11.30 WIB hingga 11.40 WIB. Para siswa kemudian mengonsumsi makanan setelah pukul 12.00 WIB.
"Yang menjadi kenyataannya ya di lapangan, itu ompreng yang harusnya dimakan sebelum jam 10.00, dikirim ke sekolah di atas jam 11.00. Kalau tidak salah 11.30 apa 11.40. Baru dimakan di atas jam 12.00 oleh para siswa itu, sehingga keracunan massal terjadi di sekolah," katanya.
Sudaryono kembali menegaskan bahwa pelaksana disebut telah mengabaikan ketentuan yang sebelumnya sudah disampaikan BGN, termasuk petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis.
"Nah jadi, anda ini berarti ini adalah kelalaian yang disengaja. Saya ulangi, ini kelalaian yang disengaja. Aturan sudah diberikan, juklak-juknis sudah diberikan, cara sudah diberikan, tapi anda lalai dalam melaksanakan ini. Namanya kelalaian disengaja," katanya.
BGN buka peluang proses hukum
BGN menyatakan tindakan terhadap pelaksana tidak berhenti pada pemberhentian apabila nantinya ditemukan unsur pidana dalam kasus tersebut.
"Bukan hanya dicopot, bukan hanya dipecat. Kalau diidentifikasi ada kelalaian dan ada unsur pidana, mohon maaf, kami tidak bisa bantu," ujarnya.
Sudaryono juga menyampaikan permintaan maaf atas insiden yang menyebabkan ratusan siswa mengalami gangguan kesehatan.
"Saya juga menyampaikan di tempat ini, keracunan makanan yang terjadi di Sidoarjo kemarin, permohonan maaf saya sebagai Kepala Badan Gizi Nasional atas kelalaian dan hal-hal yang kemudian menimbulkan gangguan kesehatan atau keracunan makanan di Sidoarjo," kata Sudaryono.
Ratusan siswa masih dalam penanganan
Sebelumnya, BGN menyatakan terus mengawal pemulihan siswa yang terdampak insiden keamanan pangan di MTs dan MA Manbaul Hikam Putat.
Berdasarkan data per Rabu (2/9/2026), sebanyak 512 siswa telah mendapatkan penanganan. Dari jumlah tersebut, 80 siswa masih menjalani rawat inap, 312 siswa telah dipulangkan dari rumah sakit, dan 120 siswa masih dalam observasi.
Deputi Pemantauan dan Pengawasan BGN Ketut Sumedana menegaskan keselamatan dan kesehatan para siswa menjadi prioritas dalam penanganan kasus tersebut.
"Yang utama bagi kami saat ini adalah keselamatan dan kesehatan anak-anak kita. Untuk itu, BGN akan terus mengawal 80 siswa yang masih menjalani rawat inap dan memastikan mereka mendapatkan penanganan yang diperlukan hingga kondisi mereka kembali sehat dan dapat pulang ke rumah masing-masing," kata Ketut.



















































