Kemnaker menyebut lima aspek pendidikan vokasi agar lulusan memiliki kompetensi, karakter, kemampuan adaptasi, dan manfaat bagi dunia kerja.
![]()
Oleh Redaksi PEWARTA
Jumat, Agustus 21, 2026
![]() |
| Sekjen Kemnaker Cris Kuntadi menyampaikan orasi ilmiah dalam Dies Natalis ke-9 Polteknaker di Jakarta. (Dok. Ist) |
PEWARTA.CO.ID — Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) menilai pendidikan vokasi perlu dibangun dengan pendekatan yang lebih luas agar lulusan benar-benar mampu menjawab kebutuhan dunia kerja. Ada lima aspek yang dinilai menjadi fondasi penting, mulai dari kompetensi dan karakter hingga manfaat lulusan bagi masyarakat.
Sekretaris Jenderal Kemnaker Cris Kuntadi menyampaikan hal tersebut saat memberikan orasi ilmiah bertajuk “Nava Karya Dalam Nusa Diri: Transformasi SDM Vokasi Menuju Ketenagakerjaan Berkelanjutan” dalam Sidang Senat Terbuka Dies Natalis ke-9 Politeknik Ketenagakerjaan (Polteknaker) di Jakarta, Selasa (18/8/2026).
Menurut Cris, lima aspek tersebut mencakup kompetensi dan karakter, kemampuan beradaptasi dengan teknologi, infrastruktur pembelajaran, tata kelola institusi, serta manfaat lulusan bagi dunia kerja dan masyarakat.
“Kita tidak cukup hanya mencetak lulusan yang terampil. Kita harus membentuk manusia yang memiliki integritas, disiplin, kompetensi, serta etos kerja yang kuat,” ujar Cris.
Kompetensi dan karakter menjadi fondasi
Cris menggunakan perumpamaan pohon untuk menjelaskan pentingnya fondasi dalam pendidikan vokasi. Menurutnya, pohon membutuhkan akar yang kuat agar mampu tumbuh dan bertahan, begitu pula peserta didik yang membutuhkan kompetensi sekaligus karakter.
“Akar pohon adalah fondasi yang tidak terlihat, tetapi menentukan kokoh atau tidaknya sebuah pohon,” ujar Cris.
Dalam konteks pendidikan vokasi, akar tersebut menggambarkan keterampilan sesuai bidang yang dipelajari serta nilai integritas, tanggung jawab, kedisiplinan dan etika kerja.
Fondasi itu kemudian harus diikuti kemampuan untuk terus berkembang. Hal ini penting karena perubahan di dunia kerja berlangsung seiring perkembangan teknologi.
Lulusan dituntut terus beradaptasi
Menurut Cris, keterampilan yang diperoleh selama pendidikan tidak cukup jika lulusan tidak memiliki kemampuan untuk terus belajar. Perubahan teknologi membuat peserta didik perlu memiliki kemampuan belajar sepanjang hayat.
“Teknologi terus berubah. Oleh karena itu, lulusan vokasi harus memiliki kemampuan belajar sepanjang hayat,” tutur Cris.
Untuk mendukung proses tersebut, pendidikan vokasi juga membutuhkan infrastruktur pembelajaran yang memadai. Fasilitas fisik dan digital dinilai penting untuk menunjang pembelajaran sekaligus memperluas akses terhadap pendidikan vokasi berkualitas.
Selain fasilitas, tata kelola institusi menjadi aspek lain yang tidak kalah penting. Pengelolaan lembaga pendidikan harus memastikan sumber daya digunakan secara efektif dan bertanggung jawab dengan mengedepankan transparansi serta akuntabilitas.
Keberhasilan diukur dari manfaat lulusan
Aspek terakhir berkaitan dengan hasil pendidikan setelah lulusan memasuki dunia kerja dan berkontribusi di tengah masyarakat. Dengan demikian, keberhasilan pendidikan vokasi tidak semata dilihat dari jumlah lulusan yang dihasilkan.
“Ukuran keberhasilan pendidikan vokasi pada akhirnya bukan hanya berapa banyak lulusan, tetapi seberapa besar manfaat yang mereka berikan,” ujar Cris.
Cris berharap Dies Natalis ke-9 menjadi momentum bagi Polteknaker untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan sekaligus menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan dunia kerja.
Ia juga berharap Polteknaker mampu menghasilkan sumber daya manusia dengan kompetensi, karakter, dan daya saing tinggi yang dapat berkontribusi terhadap transformasi ketenagakerjaan Indonesia.
“Saya berharap Polteknaker dapat melahirkan lulusan yang memiliki kompetensi, karakter, dan daya saing tinggi sehingga mampu berkontribusi dalam transformasi ketenagakerjaan Indonesia,” pungkasnya.



















































