Piala Dunia 2026 menghadirkan kejutan sejak pekan pertama. Amerika Serikat, Maroko, Korea Selatan, Qatar hingga Pantai Gading mulai ganggu dominasi.
![]()
Oleh Redaksi Pewarta.co.id
Senin, Juni 15, 2026
![]() |
| Timnas Qatar bermain imbang pada laga pembuka saat melawan Swiss. (Dok. Ist) |
PEWARTA.CO.ID — Piala Dunia FIFA 2026 baru berjalan beberapa hari, tetapi sejumlah hasil pertandingan sudah mulai mengubah peta persaingan. Sejumlah tim yang sebelumnya tidak banyak diperhitungkan justru mampu menunjukkan performa menjanjikan dan membuat para unggulan harus lebih waspada.
Format baru yang menghadirkan 48 peserta ternyata membuka peluang lebih besar bagi munculnya kejutan. Beberapa tim berhasil mencuri perhatian sejak laga perdana, sementara tim lainnya datang dengan modal yang cukup untuk menjadi ancaman serius di fase grup maupun babak gugur.
Qatar mengubah peta persaingan Grup B
Salah satu hasil yang paling menyita perhatian datang dari Grup B. Qatar, yang tampil mengecewakan saat menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022, kali ini berhasil memulai turnamen dengan hasil positif.
Menghadapi Swiss, Qatar sempat berada dalam tekanan dan terlihat akan menelan kekalahan. Namun mereka mampu memaksakan hasil imbang setelah mencetak gol penyeimbang pada masa tambahan waktu.
Tambahan satu poin tersebut membuat persaingan di Grup B langsung menjadi terbuka. Qatar, Swiss, Kanada, serta Bosnia dan Herzegovina sama-sama mengoleksi satu poin setelah pertandingan pertama sehingga peluang lolos masih dimiliki seluruh peserta grup.
Amerika Serikat kirim sinyal kuat sebagai tuan rumah
Penampilan paling meyakinkan sejauh ini ditunjukkan Amerika Serikat. Bermain di hadapan publik sendiri, mereka sukses meraih kemenangan telak 4-1 atas Paraguay.
Hasil tersebut dianggap istimewa karena Paraguay bukan lawan yang bisa diremehkan. Tim asal Amerika Selatan itu berhasil lolos ke putaran final setelah mencatat hasil impresif sepanjang kualifikasi, termasuk kemenangan atas Brasil dan Argentina.
Meski demikian, Amerika Serikat tampil dominan. Folarin Balogun mencetak dua gol, Christian Pulisic tampil efektif sebelum ditarik keluar akibat masalah pada betisnya, sementara Gio Reyna melengkapi kemenangan melalui gol menjelang akhir pertandingan.
Performa tersebut memperlihatkan bahwa Amerika Serikat tidak hanya mengandalkan status tuan rumah, tetapi juga memiliki kualitas untuk bersaing dengan tim-tim terbaik dunia.
Korea Selatan kembali menunjukkan karakter kuat
Korea Selatan juga memulai turnamen dengan hasil yang menjanjikan. Setelah sempat tertinggal dari Republik Ceko, wakil Asia tersebut mampu membalikkan keadaan dan menang 2-1.
Hwang In-beom menjadi sosok sentral dalam kemenangan itu. Ia mencetak gol penyama kedudukan sekaligus memberikan assist yang diselesaikan Oh Hyeon-gyu menjadi gol kemenangan.
Kemenangan tersebut mempertegas reputasi Korea Selatan sebagai salah satu tim yang selalu sulit ditaklukkan di ajang Piala Dunia. Organisasi permainan yang rapi dan kualitas teknis yang baik membuat mereka berpotensi menjadi lawan berbahaya pada fase gugur.
Maroko kembali membuktikan kualitasnya
Hasil imbang 1-1 antara Maroko dan Brasil menjadi salah satu pertandingan yang paling menarik perhatian pada awal turnamen.
Menghadapi salah satu favorit juara, Maroko tampil percaya diri dan bahkan mampu unggul lebih dulu melalui gol Ismael Saibari. Brasil akhirnya menyamakan skor lewat Vinicius Junior, tetapi satu poin yang diraih Maroko tetap dianggap sangat berharga.
Penampilan tersebut memperkuat keyakinan bahwa keberhasilan Maroko mencapai semifinal Piala Dunia 2022 bukanlah keberuntungan semata. Mereka kembali menunjukkan permainan disiplin, tenang, dan mampu menghadapi tekanan dari tim besar.
Hasil tersebut juga membuat persaingan di Grup C semakin sulit diprediksi.
Pantai Gading siap menjadi ancaman serius
Meski belum memainkan pertandingan pertamanya, Pantai Gading menjadi salah satu tim yang paling menarik untuk diperhatikan.
Juara Piala Afrika tersebut datang ke Amerika Utara dengan kepercayaan diri tinggi setelah mengalami transformasi besar di bawah pelatih Emerse Fae.
Perjalanan mereka menuju gelar juara Afrika menjadi salah satu kisah paling mengesankan dalam beberapa tahun terakhir. Saat hampir tersingkir, Fae mengambil alih tim dan berhasil membawa Pantai Gading bangkit hingga menjadi juara usai mengalahkan Nigeria di final.
Kepercayaan diri mereka semakin meningkat setelah mengalahkan Prancis 2-1 dalam laga pemanasan terakhir sebelum Piala Dunia. Gol kemenangan saat itu dicetak oleh Amad Diallo.
Pantai Gading akan memulai perjalanan di Grup E melawan Ekuador. Meski Jerman menjadi tim unggulan dalam grup tersebut, Pantai Gading dinilai memiliki kualitas yang cukup untuk membuat persaingan berlangsung ketat.
Panama berpotensi mematahkan prediksi
Panama juga datang dengan status tim yang kurang diperhitungkan. Ini merupakan penampilan kedua mereka di Piala Dunia dan mereka tergabung di Grup L bersama Inggris, Kroasia, serta Ghana.
Banyak pihak memprediksi Panama akan kesulitan bersaing. Namun anggapan tersebut bisa saja keliru.
Tim asuhan Thomas Christiansen berkembang menjadi salah satu kekuatan utama di kawasan Amerika Tengah. Mereka tampil disiplin, memiliki struktur pertahanan yang solid, dan dikenal mampu membuat lawan kesulitan mengembangkan permainan.
Laga melawan Ghana pada 17 Juni menjadi kesempatan pertama bagi Panama untuk menunjukkan bahwa mereka bukan sekadar peserta pelengkap di turnamen ini.
Format baru membuka peluang kejutan lebih besar
Piala Dunia 2026 menjadi edisi pertama yang diikuti 48 negara dan dibagi ke dalam 12 grup. Format tersebut menghadirkan lebih banyak pertandingan sekaligus membuka peluang lebih besar bagi munculnya tim-tim kejutan.
Beberapa hari pertama turnamen sudah menunjukkan bahwa nama besar dan reputasi tidak selalu menjamin kemenangan.
Qatar membuktikan pentingnya semangat juang hingga menit akhir. Korea Selatan dan Maroko menunjukkan bagaimana disiplin serta keyakinan mampu menghasilkan poin penting. Sementara Amerika Serikat berhasil menjawab ekspektasi tinggi sebagai tuan rumah.
Kini perhatian beralih kepada Pantai Gading dan Panama. Kedua tim tersebut memiliki kesempatan untuk membuktikan bahwa sejarah panjang di Piala Dunia bukan satu-satunya faktor yang menentukan keberhasilan di panggung sepak bola terbesar dunia.



















































