Heboh Link CCTV Nizam Syafei Beredar, Polisi Ungkap Fakta dan Ingatkan Bahaya Phishing

13 hours ago 10

Redaksi Pewarta.co.id

Redaksi Pewarta.co.id

Kamis, Februari 26, 2026

Perkecil teks Perbesar teks

Heboh Link CCTV Nizam Syafei Beredar, Polisi Ungkap Fakta dan Ingatkan Bahaya Phishing
Heboh Link CCTV Nizam Syafei Beredar, Polisi Ungkap Fakta dan Ingatkan Bahaya Phishing

PEWARTA.CO.ID — Kabar duka meninggalnya Nizam Syafei (12), bocah asal Surade, Sukabumi, memantik gelombang empati dan kemarahan publik.

Di tengah suasana berduka, media sosial justru diramaikan oleh kemunculan narasi “Link CCTV Nizam Syafei” yang diklaim memuat rekaman detik-detik peristiwa tragis tersebut.

Istilah itu dengan cepat menyebar di TikTok hingga X (Twitter). Sejumlah akun tak dikenal memancing rasa penasaran warganet dengan janji menampilkan video asli dari kamera pengawas di lokasi kejadian. Namun, di balik kehebohan tersebut, muncul peringatan serius soal potensi kejahatan siber yang mengintai.

Alih-alih membantu mengungkap kebenaran, tautan yang beredar diduga kuat hanya jebakan untuk mencuri data pribadi pengguna internet.

Tautan CCTV diduga hanya modus penipuan digital

Fenomena “link CCTV” ramai dibicarakan setelah beberapa akun mengunggah potongan video pemakaman maupun foto korban, lalu menyematkan tautan mencurigakan di kolom komentar atau bio profil.

Narasi yang digunakan cenderung provokatif dan memancing emosi, seolah-olah publik bisa menyaksikan langsung rekaman kejadian.

Padahal, hingga saat ini, pihak kepolisian tidak pernah mengumumkan atau membenarkan adanya rekaman CCTV yang dirilis ke publik sebagai barang bukti utama.

Peringatan keras pun muncul agar masyarakat tidak terjebak. Dalam narasi yang turut beredar luas, ditegaskan:

"Jangan biarkan rasa penasaran Anda menjadi pintu masuk bagi penjahat siber. Fenomena 'Link CCTV Nizam' di TikTok hanyalah jebakan phishing yang mengeksploitasi tragedi memilukan ini demi mencuri data pribadi Anda."

Praktik phishing sendiri merupakan metode penipuan digital yang memancing korban mengklik tautan tertentu. Setelah itu, pelaku bisa mencuri data akun media sosial, kata sandi, hingga informasi perbankan. Dalam situasi viral seperti ini, modus tersebut kerap memanfaatkan empati dan rasa penasaran publik.

Masyarakat pun diimbau lebih waspada dan tidak sembarangan mengakses tautan dari sumber yang tidak jelas.

Pengakuan Nizam saat dirawat bikin publik terpukul

Gelombang simpati semakin meluas setelah video pengakuan Nizam saat menjalani perawatan di rumah sakit tersebar di media sosial. Dalam rekaman tersebut, bocah itu menyampaikan keluhannya dengan suara lirih.

Ia mengaku sering mengalami kekerasan saat ayahnya tidak berada di rumah. Salah satu pengakuan yang paling menyayat hati adalah ketika Nizam menyebut dirinya dipaksa meminum air panas hingga menyebabkan luka bakar di bagian mulut dan tenggorokan.

Pengakuan itu memicu reaksi keras dari warganet yang menuntut penegakan hukum secara tegas dan transparan. Tagar dukungan untuk keadilan bagi Nizam pun ramai disuarakan.

Polisi ungkap hasil autopsi sementara

Kapolres Sukabumi, AKBP Samian, memastikan bahwa kasus ini ditangani secara profesional menggunakan metode Scientific Crime Investigation. Proses penyelidikan dilakukan menyeluruh dengan pendekatan ilmiah dan forensik.

Berdasarkan hasil autopsi sementara yang dilakukan di RS Bhayangkara Setukpa, ditemukan sejumlah fakta medis yang menguatkan dugaan adanya kekerasan fisik.

Beberapa temuan di antaranya:

  • Luka bakar di kaki kiri, punggung, bibir, dan hidung.
  • Luka lecet yang diduga akibat benturan benda tumpul di beberapa bagian tubuh.

Selain luka fisik, tim medis juga menemukan kondisi medis serius yang dialami korban. Nizam didiagnosis mengalami sepsis, yakni peradangan berat akibat infeksi yang menyebar dalam tubuh.

Ia juga disebut memiliki gangguan paru-paru kronis yang memperburuk kondisi kesehatannya hingga mengalami penurunan kesadaran sebelum akhirnya meninggal dunia.

Hasil ini menjadi bagian penting dalam proses penyidikan untuk menentukan keterkaitan antara dugaan penganiayaan dan penyebab kematian.

Ibu tiri masih berstatus terperiksa

Meski tekanan publik begitu besar, kepolisian menyatakan tetap berhati-hati dalam menetapkan status hukum pihak-pihak yang terlibat. Hingga kini, sedikitnya 16 saksi telah dimintai keterangan, termasuk anggota keluarga serta tenaga medis yang menangani korban.

Ibu tiri korban yang disebut dalam berbagai pemberitaan masih membantah melakukan penganiayaan berat yang menyebabkan kematian Nizam.

Penyidik saat ini masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium forensik dari Pusdokkes Polri. Hasil tersebut akan menjadi penentu apakah luka-luka yang ditemukan secara langsung menjadi penyebab kematian atau terdapat faktor komplikasi medis lain yang berperan.

Langkah ini dilakukan guna memastikan proses hukum berjalan objektif dan berbasis bukti.

Riwayat dugaan KDRT yang pernah dilaporkan

Fakta lain yang terungkap adalah adanya dugaan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang pernah dilaporkan sekitar setahun lalu. Saat itu, laporan tersebut tidak berlanjut ke proses hukum karena diselesaikan secara kekeluargaan.

Keputusan damai tersebut diambil dengan alasan menjaga keutuhan rumah tangga. Namun, belakangan muncul dugaan bahwa kekerasan tidak benar-benar berhenti.

Peristiwa tragis yang terjadi pada Kamis (20/2/2026) kini menjadi sorotan tajam publik, sekaligus memunculkan pertanyaan besar mengenai pentingnya perlindungan anak dalam lingkungan keluarga.

Waspada hoaks dan lindungi data pribadi

Di tengah proses hukum yang masih berjalan, masyarakat diimbau untuk tidak terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi. Penyebaran tautan mencurigakan dengan embel-embel “Link CCTV Nizam Syafei” bukan hanya tidak etis, tetapi juga berpotensi merugikan secara finansial dan digital.

Menghormati privasi keluarga korban serta menunggu hasil resmi dari aparat penegak hukum merupakan langkah bijak. Mengklik tautan ilegal tidak akan membantu proses keadilan, justru bisa menambah korban baru dalam bentuk kejahatan siber.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa tragedi kemanusiaan kerap dimanfaatkan pihak tak bertanggung jawab untuk keuntungan pribadi. Karena itu, literasi digital dan kewaspadaan menjadi benteng utama di era arus informasi yang begitu cepat.

Publik kini menantikan hasil final penyelidikan dan berharap proses hukum berjalan transparan. Di sisi lain, kehati-hatian dalam menyaring informasi dan tidak sembarangan mengakses link viral menjadi bentuk kepedulian nyata—baik terhadap korban maupun terhadap keamanan diri sendiri.

Read Entire Article
Bekasi ekspress| | | |