Redaksi Pewarta.co.id
Minggu, April 12, 2026
Perkecil teks Perbesar teks
![]() |
| AS-Iran Gagal Batal Damai, Perundingan 21 Jam di Islamabad Berakhir Buntu |
PEWARTA.CO.ID — Upaya diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran kembali menemui jalan buntu. Perundingan yang berlangsung selama 21 jam di Islamabad, Pakistan, pada Minggu (12/4/2026) berakhir tanpa kesepakatan damai.
Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance, menegaskan bahwa tidak ada titik temu dalam pembicaraan tersebut. Ia menyebut Iran memilih untuk tidak menyetujui sejumlah persyaratan yang diajukan oleh pihak Washington.
Mengutip laporan Reuters, seorang jurnalis televisi pemerintah Iran menyampaikan bahwa dialog antara kedua negara masih akan dilanjutkan. Namun demikian, Vance tidak memberikan kepastian kapan negosiasi lanjutan tersebut akan dimulai.
Pertemuan bersejarah setelah satu dekade
Pertemuan di Islamabad ini menjadi momen penting, mengingat ini adalah kontak langsung pertama antara Amerika Serikat dan Iran dalam lebih dari sepuluh tahun terakhir.
Selain itu, forum tersebut juga menjadi dialog tingkat tinggi paling signifikan sejak Revolusi Islam Iran 1979.
Harapan besar sempat muncul bahwa perundingan ini mampu meredakan ketegangan yang memanas dalam beberapa waktu terakhir. Namun, hasil yang dicapai justru memperlihatkan masih lebarnya perbedaan kepentingan kedua negara.
Dampak pada gencatan senjata dan energi global
Kegagalan mencapai kesepakatan ini berpotensi memengaruhi keberlangsungan gencatan senjata sementara yang telah berjalan selama dua minggu.
Situasi tersebut juga berkaitan erat dengan nasib Selat Hormuz, jalur vital yang mengalirkan sekitar 20 persen pasokan energi global.
Sejak konflik meningkat, Iran diketahui memblokir jalur tersebut, sehingga memicu kekhawatiran global terkait distribusi energi.
Perang yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran juga telah membawa dampak luas. Selain menyebabkan lonjakan harga minyak dunia, konflik tersebut dilaporkan menelan korban jiwa hingga ribuan orang.
Trump sempat tunda serangan
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sempat mengumumkan penundaan serangan terhadap Iran selama dua minggu. Langkah ini dilakukan sebagai upaya membuka ruang diplomasi dan mengurangi eskalasi konflik.
Namun dengan belum tercapainya kesepakatan dalam perundingan terbaru, masa depan stabilitas kawasan Timur Tengah masih berada dalam ketidakpastian.



















































