Penyesuaian harga Pertamax naik menjadi Rp16.250 per liter, namun Pertamina menyebut baru 50 persen dari harga keekonomian.
![]()
Oleh Redaksi Pewarta.co.id
Jumat, Juni 19, 2026
![]() |
| Ilustrasi: SPBU Pertamina. (Dok. Canva) |
PEWARTA.CO.ID — PT Pertamina Patra Niaga akhirnya memberikan penjelasan terkait penyesuaian harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax yang resmi naik menjadi Rp16.250 per liter sejak 10 Juni 2026. Meski mengalami kenaikan, perusahaan menegaskan bahwa harga tersebut masih berada di bawah harga keekonomian yang seharusnya.
Penyesuaian mengikuti mekanisme pasar
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, menyebut bahwa penyesuaian harga yang dilakukan saat ini masih berada pada level 50 persen dari selisih harga pasar yang berlaku.
"Penyesuaian harga Pertamax yang dilakukan saat ini adalah 50% dari selisih harga pasar," kata Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Roberth MV Dumatubun di Jakarta.
Ia menambahkan bahwa jika dibandingkan dengan negara-negara di kawasan ASEAN, harga Pertamax masih tergolong lebih kompetitif sehingga tetap mendukung daya beli masyarakat dan stabilitas ekonomi.
Masih kompetitif di kawasan ASEAN
Pertamina menegaskan bahwa meskipun ada kenaikan harga, posisi BBM nonsubsidi Indonesia masih relatif terjaga dibandingkan negara tetangga. Hal ini menjadi salah satu pertimbangan dalam menjaga keseimbangan antara kondisi pasar dan kemampuan masyarakat.
Mengacu formula pemerintah
Kenaikan harga Pertamax dari sebelumnya Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter disebut sudah mengikuti mekanisme harga pasar yang ditetapkan pemerintah melalui formula yang berlaku.
Roberth menegaskan bahwa kebijakan ini sejalan dengan ketentuan yang menyebutkan bahwa Pertamax series merupakan BBM nonsubsidi yang harganya mengikuti perkembangan parameter ekonomi.
“BBM nonsubsidi seperti Pertamax series merupakan produk yang harga jualnya disesuaikan dengan perkembangan kondisi pasar dan faktor-faktor ekonomi yang memengaruhi biaya pengadaan energi," ujar Roberth.
Ia juga menjelaskan bahwa evaluasi harga dilakukan secara berkala sesuai dinamika ekonomi yang terjadi di pasar.
“Pada prinsipnya, harga BBM non subsidi dilakukan evaluasi secara berkala setiap bulan sesuai perkembangan parameter keekonomian. Namun demikian, implementasinya tetap memperhatikan kebijakan yang ditetapkan pemerintah,” tambahnya.
Dampak kondisi global dan komitmen Pertamina
Di tengah fluktuasi harga minyak dunia yang dipengaruhi dinamika geopolitik global, pemerintah tetap berupaya menjaga agar harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax series tidak mengalami lonjakan yang terlalu tinggi.
Penyesuaian pada Juni ini disebut mempertimbangkan kondisi pasar internasional, namun tetap memperhatikan daya beli masyarakat di dalam negeri.
“Pertamina Patra Niaga terus berkomitmen menjalankan penugasan pemerintah sekaligus menjaga ketersediaan energi bagi masyarakat," katanya.



















































