422 Gempa Susulan Hantam Bitung Usai M7,6, BMKG Ungkap Fakta Terbaru

12 hours ago 9

Redaksi Pewarta.co.id

Redaksi Pewarta.co.id

Jumat, April 03, 2026

Perkecil teks Perbesar teks

422 Gempa Susulan Hantam Bitung Usai M7,6, BMKG Ungkap Fakta Terbaru
422 Gempa Susulan Hantam Bitung Usai M7,6, BMKG Ungkap Fakta Terbaru

PEWARTA.CO.ID — Rentetan gempa susulan terus mengguncang wilayah sekitar Bitung, Sulawesi Utara, pascagempa besar berkekuatan magnitudo 7,6 yang terjadi pada Kamis, 2 April 2026.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat ratusan aktivitas seismik lanjutan yang masih berlangsung hingga keesokan harinya.

Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Rahmat Triyono, mengungkapkan bahwa jumlah gempa susulan yang tercatat sudah mencapai ratusan kejadian dengan variasi kekuatan yang cukup signifikan.

“Hingga pukul 08.00 WIB (3 April 2026), total gempabumi susulan yang tercatat mencapai 422 gempabumi dengan magnitudo terbesar M5.8 dan terkecil M1,7,” kata Rahmat, Jumat (3/4/2026).

Gempa terbaru tidak berpotensi tsunami

BMKG juga melaporkan adanya gempa susulan terbaru yang terjadi pada Jumat pagi. Getaran tersebut terdeteksi di wilayah Maluku Utara dengan kekuatan yang cukup terasa, meski tidak menimbulkan ancaman gelombang laut.

Rahmat menjelaskan, gempa terakhir terjadi pada pukul 08.44 WIB dengan magnitudo 5,2 dan dipastikan tidak berpotensi tsunami.

Lebih lanjut, hasil analisis BMKG menunjukkan pembaruan parameter gempa dengan magnitudo M5,4. Titik pusat gempa berada di laut, tepatnya sekitar 100 kilometer arah barat laut Ternate, Maluku Utara, dengan kedalaman 13 kilometer.

“Episenter gempabumi terletak pada koordinat 1,02° LU ; 126,50° BT, atau tepatnya berlokasi di laut pada jarak 100 Km arah Barat Laut Ternate, Maluku Utara pada kedalaman 13 km,” ujar dia.

Dipicu aktivitas kerak bumi dangkal

Berdasarkan kajian lebih lanjut, BMKG menyimpulkan bahwa gempa yang terjadi termasuk dalam kategori gempa dangkal. Hal ini dipicu oleh aktivitas deformasi pada kerak bumi di wilayah tersebut.

Rahmat menyebutkan, mekanisme sumber gempa menunjukkan adanya pergerakan naik atau thrust fault, yang menjadi salah satu penyebab terjadinya guncangan.

“Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan naik (thrust fault),” ungkapnya.

Dari sisi dampak getaran, gempa tersebut dirasakan di beberapa wilayah, khususnya di Pulau Batang Dua, Kota Ternate, dengan skala intensitas III MMI. Getaran pada level ini umumnya terasa nyata di dalam rumah, seperti getaran yang dirasakan saat truk berat melintas.

Belum ada laporan kerusakan

Meski aktivitas gempa susulan tergolong tinggi, hingga saat ini belum ditemukan laporan kerusakan akibat gempa tersebut. BMKG juga memastikan bahwa hasil pemodelan tidak menunjukkan adanya potensi tsunami dari gempa susulan terbaru.

“Hingga saat ini belum ada laporan dampak kerusakan yang ditimbulkan akibat gempabumi tersebut. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempabumi ini tidak berpotensi tsunami,” pungkasnya.

Sempat picu tsunami kecil, kini sudah dicabut

Sebagai informasi, gempa utama yang terjadi sebelumnya sempat memicu peringatan tsunami di wilayah Maluku Utara dan Sulawesi Utara. BMKG mencatat adanya kenaikan muka air laut di beberapa titik.

Di Halmahera Barat, tinggi gelombang tsunami tercatat mencapai 0,3 meter. Sementara di Bitung, gelombang setinggi 0,2 meter terdeteksi pada pukul 07.15 WITA.

Namun demikian, situasi kini telah dinyatakan aman setelah BMKG secara resmi mencabut peringatan tsunami yang sebelumnya dikeluarkan.

Kendati kondisi mulai terkendali, masyarakat diimbau tetap waspada terhadap kemungkinan gempa susulan yang masih dapat terjadi sewaktu-waktu.

Read Entire Article
Bekasi ekspress| | | |