Trump Ingin Selat Hormuz Diubah Namanya jadi 'Selat Trump', Klaim Jalur Minyak itu Sudah Dikuasai AS

2 hours ago 1

Trump mengusulkan Selat Hormuz berganti nama menjadi 'Selat Trump' sekaligus mengklaim jalur strategis itu sudah berada di bawah kendali AS.

Redaksi PEWARTA

Oleh Redaksi PEWARTA

Kamis, September 03, 2026

donald trump usulkan selat hormuz berganti nama menjadi selat trump
Presiden AS Donald Trump mengusulkan perubahan nama Selat Hormuz menjadi “Selat Trump”. (Dok. Ist)

PEWARTA.CO.ID — Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali membuat pernyataan kontroversial terkait Selat Hormuz dengan mengusulkan agar jalur perairan strategis tersebut diganti nama menjadi “Selat Trump”.

Usulan itu disampaikan Trump melalui media sosial pada Rabu (2/9/2026), bersamaan dengan klaim bahwa Selat Hormuz kini berada di bawah kendali AS di tengah konflik yang terus memanas dengan Iran.

“Sekarang setelah kita menguasainya di bawah kendali AS, haruskah kita mengubah nama Selat Hormuz menjadi SELAT TRUMP???” tulis Trump dalam unggahannya.

Ia kemudian menambahkan, “Seperti Amerika itu sendiri, tempat itu akan menjadi 'lebih panas' daripada sebelumnya!”

Pernyataan tersebut muncul ketika ketegangan di kawasan Teluk kembali meningkat. Pada hari yang sama, Arab Saudi melaporkan sebuah kapal tankernya diserang dan terbakar di Selat Hormuz hingga menyebabkan dua orang meninggal dunia.

Konflik AS-Iran kembali memanas

Trump sebelumnya melancarkan serangan terhadap Iran pada Selasa (1/9/2026). Serangan tersebut menghantam sejumlah sasaran dan menewaskan sedikitnya empat orang, termasuk dua anak-anak, dalam sebuah acara pernikahan di Sirik, wilayah selatan Iran.

Iran kemudian merespons dengan meluncurkan rudal ke sejumlah pangkalan AS di kawasan tersebut. Saling serang itu turut mendorong harga minyak naik sekitar 4 persen.

Di tengah perkembangan tersebut, para pejabat AS berulang kali menyatakan bahwa Selat Hormuz tetap terbuka dan jutaan barel minyak masih melintasi jalur tersebut setiap hari.

Namun, harga minyak disebut belum mengalami penurunan dalam beberapa pekan terakhir, sementara Iran tetap bersikeras bahwa Selat Hormuz tertutup dan berada di bawah kendalinya.

Situasi di jalur pelayaran itu juga terus dipantau oleh United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO), badan pemantau yang berafiliasi dengan Angkatan Laut Kerajaan Inggris (Royal Navy).

UKMTO dilaporkan masih mencatat adanya serangan terhadap kapal-kapal di wilayah Selat Hormuz hampir setiap hari.

Trump kembali klaim menguasai Hormuz

Klaim Trump mengenai kendali atas Selat Hormuz muncul setelah konflik dengan Iran berlangsung jauh lebih lama dari perkiraan awal pemerintahannya.

Ketika Trump bersama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memulai konflik dengan menyerang Iran dan menewaskan pemimpin tertingginya pada awal tahun ini, Trump sebelumnya menyatakan perang tersebut akan berlangsung selama enam minggu.

Namun, batas waktu tersebut tidak terwujud. Konflik kini telah memasuki bulan ketujuh sejak pekan lalu.

Trump tetap menyatakan dirinya menang dan mengklaim Iran telah dikalahkan secara militer, meskipun Iran masih mampu melakukan serangan balasan terhadap kepentingan AS di kawasan.

Setelah serangan pada Selasa, Trump juga memperingatkan Teheran agar tidak membalas. Ia mengatakan Iran akan “diserang kembali dengan kekuatan yang jauh lebih dahsyat dan pada tingkat yang lebih tinggi” apabila merespons.

Peringatan tersebut tidak menghentikan respons Iran. Dalam hitungan jam, militer Iran meluncurkan rudal dan pesawat nirawak atau drone menuju pangkalan AS di Bahrain, Yordania, dan Irak.

Usulan nama “Selat Trump” bukan yang pertama

Gagasan mengganti nama Selat Hormuz menjadi “Selat Trump” menjadi langkah terbaru Trump dalam menunjukkan klaim kendalinya terhadap konflik yang terus berkembang.

Pada bulan lalu, Trump bahkan menyebut Selat Hormuz sebagai “wilayah Amerika”. Pernyataan itu disampaikan di tengah sengketa mengenai kendali dan keamanan jalur pelayaran yang sangat penting bagi perdagangan minyak dunia.

Trump juga sebelumnya mengambil langkah serupa terhadap Danau Ontario. Pekan lalu, ia secara sepihak mengganti nama danau yang berbatasan dengan AS dan Kanada tersebut menjadi “Danau Amerika” di tengah perselisihan perdagangan kedua negara.

Read Entire Article
Bekasi ekspress| | | |