Hammad Hendra
Selasa, April 21, 2026
Perkecil teks Perbesar teks
![]() |
| Riset ungkap fakta mengejutkan! Akses pembiayaan dongkrak pendapatan UMKM hingga 63 persen. (Dok. Ist) |
PEWARTA.CO.ID — Akses terhadap pembiayaan terbukti menjadi faktor krusial dalam mendorong pertumbuhan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Sebuah riset terbaru mengungkap bahwa dukungan modal mampu meningkatkan pendapatan pelaku UMKM secara signifikan, bahkan hingga lebih dari 60 persen.
Data tersebut tercantum dalam Sustainability Report Amartha 2025 yang menunjukkan bahwa sebanyak 89 persen UMKM binaan mengalami kenaikan pendapatan.
Rata-rata pertumbuhan yang dicatat mencapai 63 persen setelah mendapatkan akses pembiayaan.
Dari total 3,9 juta UMKM binaan, sekitar 2,3 juta pelaku usaha telah merasakan langsung dampak positif tersebut.
Mereka tersebar di lebih dari 50.000 desa di berbagai wilayah Indonesia.
Pembiayaan inklusif jadi pendorong utama
Founder & CEO Amartha, Andi Taufan Garuda Putra, menegaskan bahwa pembiayaan inklusif memiliki peran lebih dari sekadar menyediakan modal usaha.
“Ini menegaskan bahwa pembiayaan inklusif bukan hanya membuka akses modal, tetapi juga menjadi katalis bagi pelaku usaha untuk bertumbuh dan meningkatkan kesejahteraan,” ujarnya.
Menurutnya, akses keuangan yang inklusif mampu memperkuat ekosistem usaha mikro, terutama di tingkat akar rumput yang selama ini sulit menjangkau layanan keuangan formal.
Peran teknologi dorong inklusi keuangan
Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda, menilai bahwa kemajuan teknologi finansial turut mempercepat peningkatan inklusi keuangan di masyarakat.
Ia menyebut bahwa negara yang mengadopsi teknologi keuangan seperti pinjaman daring mencatat tingkat inklusi keuangan hingga 41,5 persen lebih tinggi dibandingkan negara yang belum menggunakannya.
“Kehadiran pinjaman daring membuat akses ke layanan keuangan menjadi terbuka lebar dan mendukung program peningkatan inklusi keuangan pemerintah. Di sisi lain, ekosistem keuangan di desa pun terdorong karena adanya pinjaman daring, seperti munculnya agen-agen produk keuangan di desa,” kata dia.
Dengan adanya inovasi tersebut, masyarakat berpenghasilan rendah kini memiliki peluang lebih besar untuk terhubung dengan sistem keuangan formal.
Kisah nyata perubahan ekonomi
Dampak positif pembiayaan juga dirasakan langsung oleh pelaku usaha di daerah.
Salah satunya Mama Redha, seorang nelayan asal Sumba, yang berhasil meningkatkan taraf hidup keluarganya setelah mendapatkan akses modal.
“Hasil laut tidak menentu. Dengan modal tanpa agunan, kini saya memiliki warung kelontong yang menjadi sumber pendapatan utama keluarga,” tuturnya.
Kisah ini menjadi contoh nyata bagaimana pembiayaan inklusif dapat membuka peluang usaha baru sekaligus menciptakan sumber pendapatan yang lebih stabil.
Dorong pertumbuhan ekonomi berbasis desa
Temuan riset ini memperkuat pentingnya perluasan akses pembiayaan sebagai strategi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya di wilayah pedesaan.
Selain meningkatkan pendapatan individu, akses modal juga mampu menggerakkan roda ekonomi lokal, menciptakan lapangan kerja, serta memperkuat ketahanan ekonomi di tingkat desa.



















































