Nilai Tukar Rupiah 12 Mei 2026: Hari Ini Tembus Rp17.500 per Dolar AS, Sentuh Rekor Terlemah Sepanjang 2026

6 hours ago 4

Redaksi Pewarta.co.id

Redaksi Pewarta.co.id

Selasa, Mei 12, 2026

Perkecil teks Perbesar teks

 Hari Ini Tembus Rp17.500 per Dolar AS, Sentuh Rekor Terlemah Sepanjang 2026
Nilai Tukar Rupiah 12 Mei 2026: Hari Ini Tembus Rp17.500 per Dolar AS, Sentuh Rekor Terlemah Sepanjang 2026

PEWARTA.CO.ID — Nilai tukar rupiah pada perdagangan Selasa, 12 Mei 2026, kembali berada di bawah tekanan dan mencatatkan pelemahan signifikan terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Bahkan, pada awal perdagangan hari ini, rupiah sempat menembus level Rp17.500 per dolar AS, yang sekaligus menjadi posisi terlemah sepanjang tahun 2026.

Berdasarkan data dari Bloomberg, rupiah tercatat melemah sebesar 0,57 persen ke level Rp17.513 per dolar AS pada pembukaan pasar.

Sementara itu, pada sesi penutupan perdagangan sehari sebelumnya, rupiah juga sudah berada dalam tren pelemahan di posisi Rp17.414 per dolar AS. Di sisi lain, indeks dolar AS justru menguat ke level 98,10, memperkuat tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Tekanan global dan geopolitik jadi pemicu

Analis pasar uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai bahwa pelemahan rupiah masih berpotensi berlanjut dalam jangka pendek. Menurutnya, sentimen global menjadi faktor utama yang menekan pergerakan mata uang domestik.

“Ini berlangsung di tengah meredupnya harapan damai antara AS dan Iran,” ujarnya pada Selasa, 12 Mei 2026.

Ketidakpastian geopolitik tersebut membuat pelaku pasar cenderung berhati-hati, sehingga meningkatkan permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe haven.

Harga minyak ikut menekan rupiah

Selain faktor geopolitik, kenaikan harga minyak mentah dunia juga turut memberikan tekanan tambahan terhadap rupiah.

Harga minyak Brent tercatat naik 0,29 persen menjadi USD104,51 per barel. Sementara itu, minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) juga mengalami kenaikan sebesar 0,32 persen ke level USD98,38 per barel.

Kondisi ini dinilai dapat memperlemah mata uang negara importir energi, termasuk Indonesia, karena meningkatnya tekanan pada neraca perdagangan dan inflasi.

Pasar tunggu sentimen MSCI dan data BI

Di tengah kondisi tersebut, pelaku pasar juga menantikan pengumuman dari penyedia indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI). Sentimen dari MSCI diperkirakan akan turut memengaruhi pergerakan pasar saham domestik dan nilai tukar rupiah.

Lukman menyebutkan bahwa pasar cenderung berhati-hati karena ekspektasi terhadap hasil pengumuman tersebut belum menunjukkan sinyal positif.

“MSCI diperkirakan tidak akan memberikan berita baik pada IHSG dan akan ikut menekan rupiah,” ucapnya.

Selain itu, investor juga menunggu rilis data penjualan ritel Indonesia yang akan diumumkan oleh Bank Indonesia (BI), yang dapat menjadi salah satu indikator kondisi konsumsi domestik.

Rupiah diproyeksikan masih fluktuatif

Ke depan, Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp17.350 hingga Rp17.500 per dolar AS, dengan potensi tekanan masih terbuka.

Dengan tembusnya level Rp17.500 per dolar AS pada hari ini, rupiah resmi mencatatkan rekor terlemah sepanjang tahun 2026, mencerminkan kombinasi tekanan global dan sentimen pasar yang masih belum stabil.

Read Entire Article
Bekasi ekspress| | | |