Harga Plastik Melonjak! Ancaman Ketahanan Pangan Sekaligus Peluang Emas Sistem Pangan Hijau

14 hours ago 13

Hammad Hendra

Hammad Hendra

Rabu, April 15, 2026

Perkecil teks Perbesar teks

Harga Plastik Melonjak! Ancaman Ketahanan Pangan Sekaligus Peluang Emas Sistem Pangan Hijau
Harga plastik melonjak! Ancaman ketahanan pangan sekaligus peluang emas sistem pangan hijau. (Dok. Ist)

PEWARTA.CO.ID — Kenaikan harga plastik global tidak hanya berdampak pada sektor industri manufaktur, tetapi juga mengguncang dunia pertanian dan ketahanan pangan.

Di balik lonjakan biaya tersebut, tersimpan peluang besar untuk membangun sistem pangan yang lebih hijau dan berkelanjutan.

Dalam praktik pertanian modern, plastik tidak sekadar berfungsi sebagai pembungkus.

Material ini memiliki peran strategis dalam mengatur air, suhu, dan stabilitas lingkungan tumbuh tanaman. Namun, ketika harga plastik melonjak lebih dari 50 persen akibat gangguan pasokan energi global di Selat Hormuz, dampaknya langsung dirasakan oleh para petani.

Plastik sebagai tulang punggung pertanian modern

Plastik digunakan secara luas di sektor pertanian, mulai dari mulsa penutup tanah, pipa irigasi, hingga lapisan pelindung ultraviolet pada greenhouse. Seluruh teknologi ini bertujuan mengatur distribusi air dan meningkatkan produktivitas tanaman.

Sistem irigasi tetes, misalnya, memungkinkan air dialirkan langsung ke akar dengan efisiensi tinggi.

Kombinasi teknologi tersebut menjadikan plastik sebagai instrumen penting dalam menjaga kestabilan lingkungan tumbuh.

Namun, ketergantungan yang tinggi terhadap plastik juga menciptakan kerentanan.

Gangguan pasokan global dapat menghambat produksi pertanian dan mengancam stabilitas rantai pangan.

Ketergantungan global terhadap plastik

Produksi plastik dunia telah melampaui 400 juta ton per tahun, meningkat tajam dibandingkan sekitar 2 juta ton pada 1950.

Angka ini diperkirakan terus bertambah seiring meningkatnya kebutuhan industri dan pangan global.

Data Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) menunjukkan sekitar 12,5 juta ton plastik digunakan langsung dalam kegiatan pertanian setiap tahun.

Jika ditambah kebutuhan kemasan pangan sebesar 37 juta ton, total penggunaan plastik dalam sistem pangan global mendekati 50 juta ton per tahun.

Di Indonesia, mulsa plastik telah menjadi teknologi utama dalam sektor hortikultura.

Penggunaannya mampu menekan pertumbuhan gulma hingga 80–95 persen serta menjaga kelembapan tanah, sehingga meningkatkan efisiensi produksi.

Selain itu, plastik juga berperan penting dalam pengemasan pangan seperti tahu, tempe, buah, dan sayuran guna menjaga kualitas serta memperpanjang umur simpan produk.

Dampak negatif terhadap lingkungan

Meski memberikan manfaat besar, penggunaan plastik juga menimbulkan dampak jangka panjang bagi lingkungan.

Plastik yang tertinggal di tanah tidak sepenuhnya terurai, melainkan terfragmentasi menjadi mikroplastik yang dapat mengganggu struktur tanah dan keseimbangan ekosistem.

Beberapa jenis plastik membutuhkan waktu puluhan hingga ratusan tahun untuk terurai.

Kantong plastik dapat bertahan hingga 100 tahun, mulsa plastik 20–50 tahun, sementara botol plastik dapat bertahan lebih dari 450 tahun.

Akumulasi mikroplastik berpotensi mengganggu pergerakan air, kesuburan tanah, dan kehidupan mikroorganisme yang berperan penting dalam produktivitas pertanian.

Titik balik menuju sistem pangan hijau

Kelangkaan plastik akibat gangguan rantai pasok global menjadi momentum untuk mengevaluasi ketergantungan terhadap material berbasis fosil.

Kondisi ini membuka peluang bagi inovasi yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Sejumlah alternatif mulai dikembangkan, seperti mulsa organik dari jerami dan daun kering, serat alami seperti sabut kelapa, serta bioplastik berbasis pati singkong dan biomassa lokal.

Bahan-bahan tersebut lebih mudah terurai dan mampu meningkatkan kandungan organik tanah.

Selain itu, kemasan pangan berbasis kertas, daun alami, dan serat nabati juga menjadi solusi potensial dalam mendukung sistem pangan berkelanjutan.

Meski demikian, tantangan tetap ada. Tidak semua bahan biodegradable dapat terurai secara sempurna tanpa kondisi khusus, dan daya tahannya masih kalah dibandingkan plastik konvensional.

Lonjakan harga plastik menjadi pengingat penting bagi sektor pertanian untuk bertransformasi.

Masa depan pertanian tidak hanya bergantung pada efisiensi produksi, tetapi juga pada keberlanjutan lingkungan.

Read Entire Article
Bekasi ekspress| | | |