Presiden Nicolas Maduro Ditangkap AS Saat Venezuela Hadapi Krisis Ekonomi Parah

1 month ago 39

Redaksi Pewarta.co.id

Redaksi Pewarta.co.id

Sabtu, Januari 03, 2026

Perkecil teks Perbesar teks

Presiden Nicolas Maduro Ditangkap AS Saat Venezuela Hadapi Krisis Ekonomi Parah
Presiden Venezuela, Nicolas Maduro (kanan) bersama istrinya, Cilia Flores, dilaporkan ditangkap pasukan elit AS.

PEWARTA.CO.ID — Ketegangan geopolitik Amerika Serikat dan Venezuela memuncak setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan pelancaran operasi militer besar-besaran di negara Amerika Selatan tersebut.

Operasi itu berujung pada penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan pemindahannya ke luar negeri.

Trump menyebut, tindakan tersebut dilakukan melalui koordinasi dengan aparat penegak hukum Amerika Serikat. Ia juga menegaskan bahwa penangkapan tidak hanya menyasar Maduro, tetapi juga istrinya, Cilia Flores.

"Amerika Serikat telah berhasil melaksanakan serangan berskala besar terhadap Venezuela dan pemimpinnya, Presiden Nicolas Maduro, yang bersama istrinya telah ditangkap dan diterbangkan keluar dari negara tersebut. Operasi ini dilakukan bekerja sama dengan aparat penegak hukum AS," kata Trump, dilansir dari CNBC, Sabtu (3/1/2026).

MASIH TERKAIT!

Breaking News: AS Tangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro

Operasi AS di tengah ketidakstabilan Venezuela

Aksi militer tersebut terjadi di saat Venezuela masih bergulat dengan krisis ekonomi berkepanjangan. Negara yang pernah menjadi salah satu eksportir minyak terbesar di dunia itu kini menghadapi tekanan ekonomi struktural yang berat.

Pada April 2025, Presiden Nicolas Maduro bahkan sempat menetapkan status darurat ekonomi. Kebijakan tersebut mencerminkan kondisi fiskal dan moneter yang kian rapuh, di tengah inflasi ekstrem dan penurunan daya beli masyarakat.

Pertumbuhan ekonomi nyaris stagnan

Berdasarkan data Dana Moneter Internasional (IMF), pertumbuhan ekonomi Venezuela pada 2025 diperkirakan hanya mencapai 0,5%. Angka ini menegaskan bahwa pemulihan ekonomi berjalan sangat lambat.

Nilai produk domestik bruto (PDB) Venezuela tercatat sekitar US$ 82,77 miliar. Capaian tersebut menunjukkan ukuran ekonomi yang jauh menyusut jika dibandingkan dengan periode sebelum krisis ekonomi melanda negara tersebut.

Daya beli masyarakat masih lemah

IMF juga mencatat PDB per kapita Venezuela pada 2025 berada di kisaran US$ 3.100. Angka ini menggambarkan daya beli masyarakat yang masih sangat terbatas.

Jika dihitung berdasarkan paritas daya beli, PDB per kapita memang meningkat menjadi US$ 8.790. Namun, selisih yang besar ini justru mencerminkan ketimpangan antara nilai tukar resmi dan kondisi riil ekonomi masyarakat di lapangan.

Peran Venezuela di ekonomi global terus menyusut

Total PDB Venezuela berdasarkan paritas daya beli tercatat sebesar US$ 234,34 miliar. Kontribusi tersebut setara hanya sekitar 0,11% dari total perekonomian dunia.

Porsi yang semakin kecil ini menjadi indikator menurunnya peran Venezuela dalam rantai ekonomi global, seiring dengan melemahnya sektor produksi dan investasi.

Inflasi masih di level ekstrem

Tekanan inflasi masih menjadi masalah utama. Rata-rata inflasi konsumen Venezuela pada 2025 diperkirakan mencapai 269,9%.

Bahkan, inflasi pada akhir periode disebut bisa menembus 548,6%. Kondisi ini menunjukkan bahwa harga kebutuhan pokok masih melonjak tajam dan membebani kehidupan rumah tangga.

Migrasi besar dan pengangguran tinggi

Populasi Venezuela pada 2026 diproyeksikan sekitar 26,89 juta jiwa. Angka ini mencerminkan dampak migrasi besar-besaran warga Venezuela ke luar negeri dalam beberapa tahun terakhir.

Di sisi lain, tingkat pengangguran masih berada di level mengkhawatirkan, yakni sekitar 35,6%. Tingginya pengangguran menandakan minimnya penciptaan lapangan kerja formal di dalam negeri.

Neraca eksternal surplus, tapi rapuh

Dari sisi transaksi berjalan, Venezuela mencatat surplus sekitar US$ 3,52 miliar pada 2025, atau setara 4,2% dari PDB. Meski terlihat positif, surplus ini dinilai lebih banyak bergantung pada sektor komoditas.

Kondisi tersebut belum mencerminkan ekspansi ekonomi yang sehat dan berkelanjutan dari sektor produktif non-komoditas.

Beban utang pemerintah membengkak

Masalah fiskal juga belum teratasi. Pada 2024, posisi net lending/borrowing pemerintah tercatat minus 3,6% terhadap PDB, menandakan defisit anggaran masih berlanjut.

Sementara itu, rasio utang pemerintah umum telah menembus 164,3% dari PDB. Angka tersebut menempatkan Venezuela dalam kategori negara dengan beban utang yang sangat tinggi, mempersempit ruang fiskal untuk pemulihan ekonomi.

Sumber: detikFinance

Read Entire Article
Bekasi ekspress| | | |