Gilcan Video Viral Ambon 54 Detik Masih Diburu Netizen, Apa Kaitannya dengan Istilah Sprei Hijau?

14 hours ago 11

Redaksi Pewarta.co.id

Redaksi Pewarta.co.id

Kamis, Februari 12, 2026

Perkecil teks Perbesar teks

Gilcan Video Viral Ambon  54 Detik Masih Diburu Netizen, Apa Kaitannya dengan Istilah Sprei Hijau?
Gilcan Video Viral Ambon  54 Detik Masih Diburu Netizen, Apa Kaitannya dengan Istilah Sprei Hijau?

PEWARTA.CO.ID — Nama Gilcan mendadak memenuhi linimasa media sosial setelah potongan video berdurasi 54 detik yang dikaitkan dengannya beredar luas.

Video yang disebut-sebut berasal dari Ambon itu menyebar cepat di TikTok, Facebook, hingga grup percakapan pribadi dan memicu beragam reaksi warganet.

Sebelum kontroversi mencuat, Gilcan dikenal sebagai figur media sosial asal Ambon yang kerap tampil dalam konten hiburan dan perbincangan santai.

Popularitasnya sempat meroket ketika tampil dalam sebuah podcast yang diunggah akun babeeeproject. Dalam tayangan tersebut, ia secara terbuka membahas dunia endorse yang selama ini digelutinya.

Dalam podcast itu, Gilcan menceritakan bahwa dirinya sering membuat konten berpart atau berseri karena sistem pembayaran endorse dihitung per menit.

Ia menyebut tarif endorse bisa mencapai sekitar 1,5 juta rupiah per menit. Itulah sebabnya, hampir tidak pernah ada video endorse berdurasi sangat panjang, sebab setiap menit bernilai mahal.

Pengakuan tersebut memancing rasa penasaran publik mengenai aktivitasnya sebagai kreator konten. Banyak yang menilai keterbukaannya sebagai sesuatu yang jarang dilakukan influencer lain. Namun, perhatian terhadap dirinya semakin besar ketika potongan video 54 detik mulai beredar.

Dijuluki “Primadona Ambon”

Di kalangan netizen, Gilcan disebut-sebut berasal dari Ambon dan telah cukup lama dikenal di kota tersebut. Beberapa warganet bahkan menjulukinya sebagai “primadona Ambon” berkat gaya bicara yang ceplas-ceplos, penampilan mencolok, serta keberaniannya tampil di depan kamera.

Sebelum viral secara nasional, ia memang aktif di berbagai konten lokal dan cukup populer di lingkup daerah. Karakternya yang blak-blakan membuat sebagian orang mengapresiasi kejujurannya, namun tak sedikit pula yang merasa kurang nyaman dengan gaya penyampaiannya.

Julukan dan citra tersebut semakin melekat ketika video 54 detik yang diduga menampilkan dirinya menjadi bahan perbincangan hangat.

Video 54 detik dan “Sprei Hijau” yang disorot

Potongan video yang beredar tidak pernah diunggah secara resmi melalui akun pribadi Gilcan. Namun, klip tersebut menyebar dari satu akun ke akun lain, bahkan disebut tersedia melalui pesan pribadi.

Dalam perbincangan warganet, muncul istilah “sprei hijau” yang disebut-sebut terlihat dalam video tersebut. Benda itu kemudian menjadi simbol sekaligus bahan candaan di kolom komentar berbagai unggahan.

Beragam respons bermunculan. Ada yang menanggapi dengan nada bercanda, ada yang mengecam, dan ada pula yang penasaran hingga meminta tautan video lengkap. Tak sedikit komentar menggunakan bahasa daerah Ambon, menandakan isu ini ramai dibicarakan di tingkat lokal.

Sebagian netizen menganggap peristiwa ini sebagai sensasi semata yang akan segera berlalu. Namun, sebagian lainnya menilai viralnya video tersebut berpotensi mencoreng nama baik dan reputasi figur yang bersangkutan.

Gelombang kritik dan ajakan introspeksi

Di tengah derasnya hujatan dan ejekan, muncul pula komentar bernada religius. Salah satu warganet mengingatkan agar publik tidak hanya menghujat, tetapi juga mendoakan agar Gilcan bisa berubah dan bertobat. Ajakan tersebut menjadi suara penyeimbang di tengah ramainya komentar negatif.

Sebagian netizen sepakat bahwa tekanan publik yang berlebihan dapat memperburuk situasi. Fenomena ini memperlihatkan bagaimana media sosial kerap menjadi ruang penghakiman massal tanpa batas.

Reputasi di era digital yang rentan

Viralnya video 54 detik ini berdampak signifikan terhadap citra Gilcan. Di satu sisi, namanya semakin dikenal secara nasional. Namun di sisi lain, sorotan tajam dan kontroversi membuat reputasinya dipertanyakan.

Kasus ini kembali menegaskan betapa cepat persepsi publik dapat berubah di era digital. Sebuah potongan video singkat mampu memicu gelombang reaksi besar hanya dalam hitungan jam.

Dari pengakuan soal tarif endorse di podcast hingga kontroversi video 54 detik, perjalanan Gilcan menjadi bukti bahwa popularitas di media sosial selalu berjalan beriringan dengan risiko.

Fenomena Gilcan Ambon terseret video 54 detik sekaligus menunjukkan bagaimana ruang digital dapat mengangkat sekaligus mengguncang nama seseorang dalam waktu singkat.

Read Entire Article
Bekasi ekspress| | | |