Bapanas Pastikan Indonesia Tanpa Impor Beras, Gula, dan Jagung di 2026

1 month ago 41

Redaksi Pewarta.co.id

Redaksi Pewarta.co.id

Minggu, Januari 04, 2026

Perkecil teks Perbesar teks

Bapanas Pastikan Indonesia Tanpa Impor Beras, Gula, dan Jagung di 2026
Bapanas Pastikan Indonesia Tanpa Impor Beras, Gula, dan Jagung di 2026

PEWARTA.CO.ID — Pemerintah menegaskan Indonesia tidak akan melakukan impor beras, gula konsumsi, maupun jagung sepanjang tahun 2026.

Kepastian ini disampaikan Badan Pangan Nasional (Bapanas) seiring kondisi stok pangan nasional yang dinilai sangat kuat berkat sisa persediaan dari tahun sebelumnya serta proyeksi produksi yang tinggi.

Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, menyebut keputusan tersebut merupakan hasil kesepakatan bersama pemerintah setelah mempertimbangkan data stok dan produksi pangan nasional.

"Secara bersama-sama dan mufakat, pemerintah telah memutuskan tidak perlu ada impor untuk beras dan gula konsumsi serta jagung pakan untuk tahun 2026. Ketersediaan stok dan produksi secara nasional dipastikan telah kuat dan mampu memenuhi konsumsi masyarakat," terangnya dikutip Minggu (4/1/2026).

Ketut menjelaskan, carry over stock atau sisa stok beras dari 2025 ke 2026 tercatat mencapai 12,529 juta ton. Angka tersebut sudah termasuk Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog sebesar 3,248 juta ton per 31 Desember 2025.

Dengan kebutuhan konsumsi beras nasional sekitar 2,591 juta ton per bulan, stok awal tahun tersebut dinilai mampu mencukupi kebutuhan masyarakat hampir lima bulan pertama di 2026. Tidak hanya itu, produksi beras nasional sepanjang 2026 diproyeksikan mencapai 34,7 juta ton.

Berdasarkan proyeksi tersebut, stok beras nasional di akhir 2026 diperkirakan meningkat hingga 16,194 juta ton. Pada periode yang sama, Indonesia bahkan berpotensi melakukan ekspor beras sekitar 71 ton, sementara impor dipastikan tidak dilakukan sama sekali.

Kondisi serupa juga terjadi pada komoditas jagung. Bapanas mencatat carry over stock jagung menuju 2026 sebesar 4,521 juta ton. Dengan kebutuhan nasional sekitar 1,421 juta ton per bulan, stok tersebut cukup untuk memenuhi konsumsi hampir tiga bulan.

Produksi jagung nasional selama 2026 diproyeksikan mencapai 18 juta ton. Dengan capaian itu, stok akhir tahun diperkirakan berada di kisaran 4,581 juta ton. Bapanas juga memproyeksikan potensi ekspor jagung pada 2026 sebesar 52,9 ribu ton, sementara impor jagung untuk pakan, benih, maupun kebutuhan rumah tangga dipastikan nihil.

Untuk komoditas gula konsumsi, Bapanas memperkirakan carry over stock ke 2026 mencapai 1,437 juta ton. Dengan kebutuhan konsumsi sekitar 236,4 ribu ton per bulan, stok tersebut dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan hingga enam bulan.

Produksi gula nasional pada 2026 diproyeksikan mencapai 2,72 juta ton. Dengan demikian, stok akhir tahun diperkirakan berada di level 1,32 juta ton. Pemerintah pun memastikan tidak akan membuka keran impor gula konsumsi sepanjang 2026.

Tak hanya beras, jagung, dan gula, Ketut menambahkan bahwa Indonesia dalam beberapa tahun terakhir juga telah mencapai kecukupan untuk sejumlah komoditas pangan strategis lainnya.

"Jangan lupa dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia sudah tidak membutuhkan impor untuk kebutuhan konsumsi bawang merah, cabai, telur ayam ras, dan daging ayam. Indonesia telah sufficient. Produksi petani dan peternak kita mumpuni," tambah Deputi Ketut.

Data Bapanas menunjukkan produksi bawang merah nasional pada 2025 diperkirakan mencapai 1,397 juta ton, sementara kebutuhan konsumsi tahunan berada di 1,239 juta ton.

Untuk cabai besar dan cabai rawit, produksi masing-masing tercatat 1,609 juta ton dan 1,744 juta ton, melampaui kebutuhan konsumsi tahunan yang berada di bawah satu juta ton.

Surplus juga terlihat pada komoditas protein hewani. Produksi telur ayam ras pada 2025 diperkirakan mencapai 6,532 juta ton dengan kebutuhan konsumsi 6,487 juta ton. Sementara produksi daging ayam ras mencapai 4,287 juta ton, lebih tinggi dibanding kebutuhan konsumsi sebesar 4,139 juta ton.

Kondisi ini mempertegas optimisme pemerintah terhadap ketahanan pangan nasional, sekaligus menunjukkan bahwa produksi dalam negeri dinilai cukup kuat untuk memenuhi kebutuhan masyarakat tanpa ketergantungan pada impor di tahun 2026.

Read Entire Article
Bekasi ekspress| | | |